Menu

Mode Gelap
Pecah dan Penuh Kejutan! Mendadak Duel Masak Bareng Aldi Taher dan Chef Hideki di Rumah Indofood Jakarta Fair Kemayoran 2026 Next Gen Choice, Buku Full English Erlangga Selaras Kurikulum Merdeka Nurul Quran Centre Singapura Konsisten Tebar Dakwah dan Amanah Qurban Internasional, Masuki Tahun Ke-6 Pengabdian Umat GIIAS 2026 Siap Digelar Hadirkan Merek Baru dengan Jajaran Merek Paling Lengkap dan Komprehensif  RAZIA MALAM BONGKAR REALITA THM RP: PEREMPUAN JADI PIHAK PALING RENTAN, GERMAS PPA Riau BUKA SUARA Mengusung Tema “2 Dekade: Next Level Legacy”, PWN 2026 Menjadi Momentum Estafet Kepemimpinan TDA dan Penguatan Ekosistem Kewirausahaan Indonesia  TDI Laporkan Dugaan Penipuan dan Penggelapan Saham Rp381,5 Miliar ke Bareskrim Polri Viu dan iQIYI International Luncurkan Paket Langganan Streaming di Asia Tenggara Bareskrim POLRI Berhasil Menangkap Buronan Narkoba Frans Anthony di Malaysia Iskandar Halim Munthe Laporkan Dugaan Sengketa 5.900 Hektare Lahan di Lahat ke Satgas Antimafia Tanah JAKALCER FEST 2026 Hadir di Pasar Seni Ancol – Rumah Kreativitas Jakarta Menuju 5 Abad Kota Jakarta

Nasional

Mewujudkan Visi WHO: Jalan Taiwan Menuju Pemberantasan Hepatitis C sebagai Ancaman Kesehatan Masyarakat

Perbesar

Dr. Chung-Liang Shih

Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan, Taiwan

 

Detakindonesianews.com – Selama beberapa dekade, hepatitis C telah menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat global, dengan sekitar 58 juta orang hidup dengan infeksi kronis di seluruh dunia.

Meskipun belum tersedia vaksin, hepatitis C kini dapat disembuhkan melalui terapi antivirus kerja langsung (direct-acting antivirals/DAA) yang sangat efektif, dengan durasi pengobatan hanya 8–12 minggu.

Menyadari peluang ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meluncurkan Deklarasi Glasgow tentang Hepatitis Virus pada tahun 2015, dengan target ambisius untuk memberantas hepatitis virus sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030.

Sejalan dengan Guidance for Country Validation of Viral Hepatitis Elimination dari WHO serta kerangka Path to Elimination (PTE), Taiwan telah mencapai target programatik Tingkat Emas (Gold Tier) untuk pemberantasan hepatitis C.

Pencapaian ini mencerminkan komitmen politik yang kuat serta integrasi sistematis upaya pencegahan, skrining, diagnosis, dan pengobatan hepatitis dalam sistem layanan kesehatan universal.

Melalui Layanan Kesehatan Preventif Dewasa untuk hepatitis B dan C, serta cakupan terapi DAA dalam program Asuransi Kesehatan Nasional, Taiwan telah memperluas akses terhadap skrining dan pengobatan secara signifikan.

Kebijakan ini secara efektif mengurangi hambatan finansial dan struktural dalam memperoleh layanan kesehatan. Hingga Juni 2025, diperkirakan 90,2% individu dengan hepatitis C kronis di Taiwan telah terdiagnosis, dan 92,6% dari mereka yang terdiagnosis telah menerima pengobatan DAA, melampaui tolok ukur Gold Tier WHO PTE.

Pencegahan dan keselamatan pasien tetap menjadi pilar utama dalam pemberantasan hepatitis C.

Taiwan memiliki tingkat keamanan 100% untuk kualitas transfusi darah dan suntikan medis. Program pengurangan dampak buruk yang komprehensif juga disediakan untuk memastikan akses luas terhadap peralatan suntik steril bagi pengguna narkoba suntik (PWID), dengan lebih dari 150 jarum suntik didistribusikan per orang per tahun . Langkah-langkah ini sangat penting untuk mengurangi infeksi baru dan mempertahankan capaian pemberantasan Hepatitis C dalam jangka panjang.

Sejalan dengan prinsip WHO dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yaitu “tidak meninggalkan siapa pun,” Taiwan memprioritaskan kelompok berisiko tinggi dan mereka yang menghadapi hambatan akses layanan kesehatan. Cakupan skrining dan pengobatan yang tinggi telah dicapai pada orang yang hidup dengan HIV, pasien dengan penyakit ginjal stadium akhir, individu yang menjalani terapi agonis opioid, serta populasi di lembaga pemasyarakatan. Hasil ini mencerminkan keadilan dan inklusivitas sistem kesehatan Taiwan.

Selama dua dekade terakhir, Taiwan mencatat penurunan signifikan dalam insiden dan angka kematian akibat kanker hati—tren yang berkaitan erat dengan kebijakan pencegahan dan pengobatan hepatitis yang telah lama diterapkan.

Pencapaian ini, yang dipaparkan dalam Laporan Eliminasi Hepatitis C Taiwan, merupakan hasil kolaborasi erat antara pemerintah pusat dan daerah, otoritas kesehatan masyarakat, penyedia layanan kesehatan, serta organisasi masyarakat sipil. Kemauan politik yang kuat, didukung oleh sistem surveilans yang kokoh dan pelaporan data yang transparan, menjadi fondasi utama keberhasilan ini.

Seiring dunia bergerak menuju target pemberantasan hepatitis tahun 2030, “Model Taiwan” menunjukkan bahwa memberantas hepatitis dapat dicapai ketika ilmu pengetahuan, komitmen politik, dan prinsip keadilan berjalan selaras.

Taiwan telah mengajukan Laporan Pemberantasan Hepatitis C kepada Kantor Regional WHO Pasifik Barat untuk validasi dalam kerangka Gold Tier PTE. Kami menantikan pengakuan internasional atas kepemimpinan dan kontribusi Taiwan dalam upaya eliminasi hepatitis.

Taiwan tetap berkomitmen untuk bekerja sama dengan komunitas internasional serta berbagi pengalaman guna mempercepat kemajuan menuju dunia bebas hepatitis C.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mengusung Tema “2 Dekade: Next Level Legacy”, PWN 2026 Menjadi Momentum Estafet Kepemimpinan TDA dan Penguatan Ekosistem Kewirausahaan Indonesia 

20 Juni 2026 - 07:44 WIB

JAKALCER FEST 2026 Hadir di Pasar Seni Ancol – Rumah Kreativitas Jakarta Menuju 5 Abad Kota Jakarta

19 Juni 2026 - 06:58 WIB

ARTA Bidik Pendapatan Rp100 Miliar pada 2026, Pemegang Saham Setujui Penguatan Struktur Permodalan

19 Juni 2026 - 04:02 WIB

Ducati Indonesia Luncurkan DesertX V2 dan Resmikan Showroom Baru di Pondok Indah

19 Juni 2026 - 03:54 WIB

Halal Indonesia International Industry Expo 2026 Melalui Halal Indo 2026, Pemerintah Dorong Akselerasi Industri Halal Nasional Berdaya Saing Global

19 Juni 2026 - 03:16 WIB

Trending di Nasional