Menu

Mode Gelap
Pecah dan Penuh Kejutan! Mendadak Duel Masak Bareng Aldi Taher dan Chef Hideki di Rumah Indofood Jakarta Fair Kemayoran 2026 Next Gen Choice, Buku Full English Erlangga Selaras Kurikulum Merdeka Nurul Quran Centre Singapura Konsisten Tebar Dakwah dan Amanah Qurban Internasional, Masuki Tahun Ke-6 Pengabdian Umat GIIAS 2026 Siap Digelar Hadirkan Merek Baru dengan Jajaran Merek Paling Lengkap dan Komprehensif  RAZIA MALAM BONGKAR REALITA THM RP: PEREMPUAN JADI PIHAK PALING RENTAN, GERMAS PPA Riau BUKA SUARA Mengusung Tema “2 Dekade: Next Level Legacy”, PWN 2026 Menjadi Momentum Estafet Kepemimpinan TDA dan Penguatan Ekosistem Kewirausahaan Indonesia  TDI Laporkan Dugaan Penipuan dan Penggelapan Saham Rp381,5 Miliar ke Bareskrim Polri Viu dan iQIYI International Luncurkan Paket Langganan Streaming di Asia Tenggara Bareskrim POLRI Berhasil Menangkap Buronan Narkoba Frans Anthony di Malaysia Iskandar Halim Munthe Laporkan Dugaan Sengketa 5.900 Hektare Lahan di Lahat ke Satgas Antimafia Tanah JAKALCER FEST 2026 Hadir di Pasar Seni Ancol – Rumah Kreativitas Jakarta Menuju 5 Abad Kota Jakarta

Nasional

*KSPI Kampanye Bahaya Asbes: “Ancaman Nyata bagi Kesehatan Pekerja dan Publik”

Perbesar

Detakindonesianews.com, Jakarta – Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) terus berupaya untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai bahaya asbes, material yang hingga kini masih banyak digunakan di Indonesia dan menyimpan risiko serius bagi kesehatan pekerja serta masyarakat umum.

Aktivis senior KSPI, Sofyan Abdul Latief, menegaskan bahwa bahaya asbes sering kali tidak disadari karena dampaknya tidak muncul secara langsung.

“Asbes adalah ancaman yang tidak terlihat dan tidak berbau, tetapi dampaknya sangat serius. Banyak pekerja dan warga tidak tahu bahwa mereka terpapar asbes setiap hari, baik di tempat kerja maupun di rumah,” ujar Sofyan dalam Konferensi Pers KSPI, Sabtu (13/2025).

Menurutnya, kampanye ini penting untuk memastikan pekerja dan masyarakat memahami risiko jangka panjang paparan asbes dan tidak lagi menganggapnya sebagai material biasa.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan asbes sebagai salah satu karsinogen terpenting di tempat kerja. Paparan terhadap seluruh jenis asbes, termasuk krisotil, diketahui dapat menyebabkan mesotelioma, kanker paru-paru, kanker laring dan ovarium, asbestosis, serta penyakit pleura. WHO juga menegaskan bahwa tidak ada ambang batas aman untuk paparan asbes.

Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dari KSPI, Ridwan Panjaitan, menekankan bahwa aspek pencegahan dan informasi merupakan kunci perlindungan.

“Dari perspektif K3, asbes adalah bahaya laten. Sekali seratnya terhirup, ia bisa menetap di paru-paru dan menimbulkan penyakit puluhan tahun kemudian. Karena itu, pekerja dan masyarakat harus diberi informasi yang jelas tentang risiko ini,” jelas Ridwan.

Ia menambahkan bahwa penguatan edukasi K3 dan kewaspadaan terhadap material yang mengandung asbes harus menjadi bagian dari budaya keselamatan kerja.

Di Indonesia, asbes masih ditemukan pada berbagai produk dan material, seperti atap dan pipa semen asbes, ubin lantai dan langit-langit, isolasi boiler dan pipa, rem dan kopling otomotif, tangki air, serta material konstruksi lainnya. Data menunjukkan 12,85% rumah tangga di Indonesia masih menggunakan atap berbahan asbes (2023), sehingga potensi paparan tidak hanya dialami pekerja industri, tetapi juga masyarakat luas.

Sejumlah temuan medis juga mencatat adanya penyakit terkait asbes pada warga non-industri yang tinggal lama di rumah beratap asbes, serta pada pekerja konstruksi dengan paparan jangka panjang. Fakta ini menegaskan bahwa bahaya asbes merupakan isu kesehatan publik yang membutuhkan perhatian bersama.

Melalui kampanye ini, KSPI mendorong peningkatan literasi publik tentang bahaya asbes, pentingnya penerapan standar K3, serta hak pekerja dan konsumen untuk mendapatkan informasi yang benar dan transparan mengenai risiko kesehatan dari material yang digunakan di tempat kerja maupun lingkungan permukiman.

“Keselamatan dan kesehatan pekerja harus dimulai dari pengetahuan. Tanpa informasi yang jujur dan terbuka, risiko akan terus diwariskan,” tegas Ridwan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mengusung Tema “2 Dekade: Next Level Legacy”, PWN 2026 Menjadi Momentum Estafet Kepemimpinan TDA dan Penguatan Ekosistem Kewirausahaan Indonesia 

20 Juni 2026 - 07:44 WIB

JAKALCER FEST 2026 Hadir di Pasar Seni Ancol – Rumah Kreativitas Jakarta Menuju 5 Abad Kota Jakarta

19 Juni 2026 - 06:58 WIB

ARTA Bidik Pendapatan Rp100 Miliar pada 2026, Pemegang Saham Setujui Penguatan Struktur Permodalan

19 Juni 2026 - 04:02 WIB

Ducati Indonesia Luncurkan DesertX V2 dan Resmikan Showroom Baru di Pondok Indah

19 Juni 2026 - 03:54 WIB

Halal Indonesia International Industry Expo 2026 Melalui Halal Indo 2026, Pemerintah Dorong Akselerasi Industri Halal Nasional Berdaya Saing Global

19 Juni 2026 - 03:16 WIB

Trending di Nasional