Menu

Mode Gelap
Pecah dan Penuh Kejutan! Mendadak Duel Masak Bareng Aldi Taher dan Chef Hideki di Rumah Indofood Jakarta Fair Kemayoran 2026 Next Gen Choice, Buku Full English Erlangga Selaras Kurikulum Merdeka Nurul Quran Centre Singapura Konsisten Tebar Dakwah dan Amanah Qurban Internasional, Masuki Tahun Ke-6 Pengabdian Umat GIIAS 2026 Siap Digelar Hadirkan Merek Baru dengan Jajaran Merek Paling Lengkap dan Komprehensif  RAZIA MALAM BONGKAR REALITA THM RP: PEREMPUAN JADI PIHAK PALING RENTAN, GERMAS PPA Riau BUKA SUARA Mengusung Tema “2 Dekade: Next Level Legacy”, PWN 2026 Menjadi Momentum Estafet Kepemimpinan TDA dan Penguatan Ekosistem Kewirausahaan Indonesia  TDI Laporkan Dugaan Penipuan dan Penggelapan Saham Rp381,5 Miliar ke Bareskrim Polri Viu dan iQIYI International Luncurkan Paket Langganan Streaming di Asia Tenggara Bareskrim POLRI Berhasil Menangkap Buronan Narkoba Frans Anthony di Malaysia Iskandar Halim Munthe Laporkan Dugaan Sengketa 5.900 Hektare Lahan di Lahat ke Satgas Antimafia Tanah JAKALCER FEST 2026 Hadir di Pasar Seni Ancol – Rumah Kreativitas Jakarta Menuju 5 Abad Kota Jakarta

Berita

Jon Efendi, Warga Pulau Baai Bengkulu Berhasil Kabur dari Kekerasan di Kamboja dan Selamat Tiba di Riau

Perbesar

Screenshot

Pekanbaru, Detak Indonesia News — Perjuangan menyelamatkan diri dari jeratan perdagangan orang dialami oleh Jon Efendi (49), warga Pulau Baai, Provinsi Bengkulu. Setelah mengalami penyiksaan saat bekerja di Kamboja, Jon akhirnya berhasil kabur dan kini mendapat perhatian serius dari Gerakan Masyarakat Perlindungan Perempuan dan Anak (GERMAS PPA) dan Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Pekanbaru.

Jon Efendi mengungkapkan dirinya berangkat ke Kamboja dengan harapan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Pada bulan pertama, ia menerima gaji Rp18 juta yang langsung dikirim ke keluarganya di Bengkulu. Namun, harapan tersebut berubah menjadi mimpi buruk.

“Masuk bulan kedua, saya tidak sanggup mencapai target. Akibatnya saya dipukuli sampai muntah darah,” tutur Jon kepada Detak Indonesia News, Senin (21/7/2025).

Dalam kondisi lemah, Jon nekat kabur dengan cara dramatis. Ia menyambung-nyambung pakaian hingga menjadi tali untuk melarikan diri dari lantai dua gedung tempat ia dikurung.

Setelah berhasil kabur, Jon mencari perlindungan ke pihak kepolisian Kamboja yang kemudian membantu proses pemulangan ke Indonesia. Dari Kamboja, ia dipulangkan melalui kapal barang menuju Batam, dan melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Sungai Duku, Pekanbaru.

Di Pekanbaru, nasib baik menghampirinya. Jon tanpa sengaja bertemu dengan perwakilan GERMAS PPA Pekanbaru yang langsung bergerak cepat.

Wakil Ketua Umum GERMAS PPA, Rika Parlina, S.H., yang turun langsung ke lapangan, berkoordinasi dengan BP3MI Pekanbaru untuk memastikan Jon mendapatkan perlindungan dan akses kepulangan ke Bengkulu.

“Kami dari GERMAS PPA bergerak cepat berkoordinasi dengan BP3MI. Kami ingin memastikan Jon tidak hanya selamat, tetapi juga dipulangkan dengan aman dan mendapatkan pendampingan yang layak,” ujar Rika Parlina.

Pihak BP3MI juga menunjukkan respon cepat dengan menyiapkan tempat penampungan sementara (shelter) agar Jon bisa beristirahat sebelum dipulangkan ke kampung halamannya.

Namun Jon memilih untuk segera pulang dan menolak menginap hingga esok hari.
“Kami sebenarnya ingin mengantar langsung Jon ke Bengkulu, namun karena beliau memilih segera pulang, kami tetap fasilitasi kebutuhan transportasinya,” kata perwakilan BP3MI Pekanbaru.

GERMAS PPA turut memberikan apresiasi atas respons cepat BP3MI dalam penanganan kasus ini, membuktikan adanya sinergi yang kuat dalam perlindungan korban TPPO.

“BP3MI sangat responsif. Kolaborasi seperti ini yang harus terus diperkuat dalam penanganan kasus perdagangan orang,” tambah Rika.

Selain memastikan kepulangan Jon, GERMAS PPA juga berkomitmen memberikan pendampingan hukum dan pemulihan psikologis, serta memastikan kasus ini dilaporkan ke aparat hukum.

“Kami ingin memastikan kejadian serupa tidak terjadi lagi, apalagi menyasar masyarakat dari daerah-daerah kecil yang kerap menjadi sasaran sindikat TPPO,” tegas perwakilan GERMAS PPA.

Kisah Jon Efendi menjadi peringatan nyata tentang bahaya Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) berkedok pekerjaan luar negeri. GERMAS PPA bersama BP3MI mengimbau masyarakat untuk tidak mudah tergiur tawaran kerja ke luar negeri tanpa prosedur resmi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sorotan Keras! Balita dan Anak di Bawah Umur Terpantau Hingga Pukul 23.00 di Kafe Laksamana Muda, Ketua GERMAS PPA Riau: Cederai Komitmen Riau Layak Anak

3 Mei 2026 - 11:53 WIB

IKKS Riau Didorong Aktifkan Wisma Jalur, Suhardiman Soroti Peran Ekonomi Perantau

14 Maret 2026 - 19:05 WIB

Menebar Berkah Ramadhan, PT. Golden Satya Perkasa Kolaborasi Dengan Germas PPA Riau Santuni Anak-anak Berkebutuhan Khusus di Perawang

14 Maret 2026 - 16:22 WIB

Kuansing Dukung Percepatan Koperasi Merah Putih, Ekonomi Desa Diharapkan Bangkit

13 Maret 2026 - 19:34 WIB

DWP Kuansing Hadirkan Kepedulian Ramadan Lewat Aksi Berbagi Takjil

13 Maret 2026 - 12:41 WIB

Trending di Berita