Menu

Mode Gelap
Pecah dan Penuh Kejutan! Mendadak Duel Masak Bareng Aldi Taher dan Chef Hideki di Rumah Indofood Jakarta Fair Kemayoran 2026 Next Gen Choice, Buku Full English Erlangga Selaras Kurikulum Merdeka Nurul Quran Centre Singapura Konsisten Tebar Dakwah dan Amanah Qurban Internasional, Masuki Tahun Ke-6 Pengabdian Umat GIIAS 2026 Siap Digelar Hadirkan Merek Baru dengan Jajaran Merek Paling Lengkap dan Komprehensif  RAZIA MALAM BONGKAR REALITA THM RP: PEREMPUAN JADI PIHAK PALING RENTAN, GERMAS PPA Riau BUKA SUARA Mengusung Tema “2 Dekade: Next Level Legacy”, PWN 2026 Menjadi Momentum Estafet Kepemimpinan TDA dan Penguatan Ekosistem Kewirausahaan Indonesia  TDI Laporkan Dugaan Penipuan dan Penggelapan Saham Rp381,5 Miliar ke Bareskrim Polri Viu dan iQIYI International Luncurkan Paket Langganan Streaming di Asia Tenggara Bareskrim POLRI Berhasil Menangkap Buronan Narkoba Frans Anthony di Malaysia Iskandar Halim Munthe Laporkan Dugaan Sengketa 5.900 Hektare Lahan di Lahat ke Satgas Antimafia Tanah JAKALCER FEST 2026 Hadir di Pasar Seni Ancol – Rumah Kreativitas Jakarta Menuju 5 Abad Kota Jakarta

Nasional

Forum Intelektual Antardisiplin (FIAD): “Alarm 7 Krisis Nasional & Kritik Keras Kebijakan Tanpa Riset”

Perbesar

Detakindonesianews.com, Jakarta, 13 April 2026 — Dewan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) bersama Forum Intelektual Antardisiplin (FIAD) menggelar sesi pleno bertajuk “Intelektual Antardisiplin Berbicara Tentang Indonesia Hari Ini” di Auditorium IMERI, Kampus FKUI Salemba, Senin (13/4).

Forum ini mempertemukan lebih dari 100 ilmuwan kampus dan intelektual publik lintas disiplin—mulai dari ekonomi, kesehatan, hukum hingga sosial-humaniora—untuk merumuskan langkah strategis menghadapi kompleksitas persoalan bangsa yang kian multidimensional.

Perwakilan Dewan Guru Besar FKUI, Teddy Prasetyono, menegaskan bahwa pertemuan ini bukanlah agenda politik praktis, melainkan gerakan moral yang menjadi mandat utama insan akademik.

  • “Ketika para ilmuwan berkumpul, kami tidak sedang berpolitik praktis. Ini adalah gerakan moral. Universitas adalah lembaga otonom yang berada di jantung masyarakat, sebagaimana ditegaskan dalam Magna Charta Universitatum (1988). Ia tidak bisa disamakan dengan lembaga politik maupun bisnis,” ujarnya.

Ia menekankan, fungsi utama universitas adalah memproduksi ilmu pengetahuan, sains, teknologi, serta pengetahuan sosial-humaniora demi kemaslahatan umat manusia. Selain itu, universitas juga berperan membangun budaya berpikir rasional di tengah masyarakat.

Menurutnya, dalam praktik global, hampir tidak ada kebijakan publik yang tidak berbasis riset ilmiah. Namun, kondisi di Indonesia justru menunjukkan tantangan serius.

“Pertanyaan krusialnya: di mana posisi ilmuwan ketika hasil riset diabaikan? Ketika kebijakan tidak berbasis data, maka risiko krisis—ekonomi, sosial, hingga kemanusiaan—menjadi tak terhindarkan,” tegas Teddy

Ia juga mengkritik fenomena pengambilan kebijakan yang cenderung populis dan berorientasi pada status quo kekuasaan, alih-alih kepentingan publik, khususnya kelompok miskin dan rentan.

Sementara itu, perwakilan FIAD, Sulistyowati Irianto, menjelaskan bahwa forum ini bertujuan menghasilkan kerangka pemikiran baru sekaligus bahan pembelajaran untuk memperkuat ketahanan masyarakat.

“Kami ingin menghadirkan pengetahuan yang bisa langsung dimanfaatkan untuk mendampingi masyarakat, terutama kelompok miskin, rentan, dan perempuan, agar tetap resilien menghadapi krisis,” jelasnya.

Dalam forum tersebut, para ilmuwan mengidentifikasi 7 krisis utama yang berpotensi dihadapi Indonesia ke depan, yaitu:

1. Krisis ekonomi

2. Krisis pangan

3. Krisis kesehatan

4. Krisis energi dan sumber daya alam

5. Krisis hukum

6. Krisis sosial dan budaya

7. Krisis pendidikan tinggi

Forum ini juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis komunitas. Masyarakat didorong untuk menggali potensi lokal, termasuk dalam menghadapi ancaman krisis pangan, energi, dan layanan publik.

Pengetahuan lokal yang telah lama hidup dalam budaya Nusantara dinilai menjadi aset penting. Berbagai komunitas etnik di Indonesia terbukti memiliki sistem pengetahuan, hukum, demokrasi, hingga praktik kesehatan yang adaptif terhadap kondisi geografisnya.

Kolaborasi antara sains modern dan kearifan lokal menjadi kunci.

“Ketahanan masyarakat tidak hanya dibangun dari atas, tetapi juga dari bawah. Kolaborasi antara ilmuwan, intelektual publik, dan masyarakat adalah jalan keluar menghadapi krisis multidimensional,” pungkas Sulistyowati.

Hasil forum ini diharapkan menjadi rekomendasi konkret yang dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan dalam memperkuat daya tahan bangsa di tengah ketidakpastian global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mengusung Tema “2 Dekade: Next Level Legacy”, PWN 2026 Menjadi Momentum Estafet Kepemimpinan TDA dan Penguatan Ekosistem Kewirausahaan Indonesia 

20 Juni 2026 - 07:44 WIB

JAKALCER FEST 2026 Hadir di Pasar Seni Ancol – Rumah Kreativitas Jakarta Menuju 5 Abad Kota Jakarta

19 Juni 2026 - 06:58 WIB

ARTA Bidik Pendapatan Rp100 Miliar pada 2026, Pemegang Saham Setujui Penguatan Struktur Permodalan

19 Juni 2026 - 04:02 WIB

Ducati Indonesia Luncurkan DesertX V2 dan Resmikan Showroom Baru di Pondok Indah

19 Juni 2026 - 03:54 WIB

Halal Indonesia International Industry Expo 2026 Melalui Halal Indo 2026, Pemerintah Dorong Akselerasi Industri Halal Nasional Berdaya Saing Global

19 Juni 2026 - 03:16 WIB

Trending di Nasional