Menu ✖

Mode Gelap
All Print Indonesia 2026 Dorong Transformasi Industri Grafika, Packaging hingga Teknologi 3D PESTAPORA 2026 Hadirkan “Musik yang Bisa Dicium”, Kolaborasi ATSIRI Luncurkan Dua Aroma Spesial BUMI dan BUGAR Polri Gelar Apel Pasukan Pengamanan FIFA ASEAN Cup 2026 Musda XI Golkar Jakbar: Ryanald Jonathan Terpilih Aklamasi, Target Tambah Kursi DPRD DKI pada Pemilu 2029 World Cleanup Day 2026: HARRIS & POP! Hotel Kelapa Gading Turun Langsung Bersihkan Kota Tua Jakarta Makassar Punya Urban Stay Baru! Horison Inn Artha Kencana Resmi Rebranding, Bawa Konsep Hospitality yang Lebih Segar ShopeePay Bersama Bank Indonesia Dorong Manfaat Penggunaan QRIS bagi Pengguna dan Pengusaha UMKM Gudang BBM Diduga Ilegal Viral, Ada Apa dengan Ketegasan Pangdam dan Kapolda Riau? Brimob Metro Jaya Evakuasi Korban Laka di Jalur Trans Jakarta ASICS Kembali Gelar Jakarta : Speed : Race 2026, Tampilkan Beauty of Sunrise dengan SONICBLAST™ 2 RISE & SHINE™ Collection Pree Screening & Gala Premiere “Lobang Buaya”: Trailer Bikin Penonton Merasa Tahu Dalangnya, Hanung Bramantyo Siapkan Plot Twist, Tayang 1 Oktober 2026 Kembali Gelar Industrial Festival x Halal Indo 2026, Kemenperin Tampilkan Kesiapan Indonesia Jadi Pusat Industri Halal Dunia Kang Didi dan Mpo Citra Launching Podcast Desil 1, Guru Gembul Bongkar Realitas di Balik Kemiskinan

Berita

Germas PPA Sesalkan Sikap Kepala UPT PPA Mandau yang Dinilai Tak Profesional Tangani Kasus Dugaan Pelecehan Seksual

Perbesar

Mandau, Detak Indonesia News — Wakil Ketua Umum DPP Gerakan Masyarakat Peduli Anak dan Perempuan (Germas PPA), Rika Parlina, SH, menyatakan kekecewaannya terhadap sikap Kepala UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kecamatan Mandau, Wati, yang dinilai tidak profesional dalam menangani kasus dugaan pelecehan seksual terhadap seorang perempuan muda berinisial S (21) di Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Menurut Rika, alih-alih memberikan pendampingan sejak awal, UPT PPA Mandau justru menyalahkan pihak Germas PPA yang terlebih dahulu turun langsung memberikan bantuan kepada korban. Pendampingan tersebut dilakukan atas permintaan korban sendiri, yang melaporkan dugaan keterlibatan suaminya, RR (22), dalam mendukung aksi pelecehan seksual yang dilakukan oleh pelaku berinisial Z (43). Kasus ini kini telah menjadi sorotan luas di media sosial dan publik.

“Kenapa tidak dari awal mendampingi korban? Setelah pelaku ditangkap Polsek Mandau dan kasus ini viral, barulah mereka muncul, bahkan melarang korban untuk didampingi oleh kami,” tegas Rika saat diwawancarai DetakPatriaNews, Senin (1/7/2025).

Rika menambahkan bahwa Germas PPA memberikan pendampingan secara sukarela, tanpa memungut biaya sepeser pun dari korban.

“Saya menggunakan dana pribadi untuk membantu korban. Sementara mereka yang digaji negara, justru tidak hadir saat korban paling membutuhkan bantuan,” lanjutnya.

Dalam upaya memperkuat perlindungan terhadap korban, Rika menyebut pihaknya telah menjalin koordinasi aktif dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPA) serta Bareskrim Mabes Polri. Germas PPA mendapatkan dukungan penuh dari kedua institusi tersebut dalam penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“KemenPPA meminta kami terus membangun kerja sama dengan instansi pemerintah karena persoalan ini tidak bisa ditangani pemerintah saja. Keterlibatan lembaga masyarakat seperti Germas PPA sangat penting,” jelas Rika.

Dari Mabes Polri, Germas PPA juga mendapat dorongan untuk terus menjalin komunikasi dan sinergi dengan aparat penegak hukum di daerah.

“Kabareskrim mendukung agar kami aktif berkoordinasi dengan pihak kepolisian daerah, demi memastikan perlindungan hukum bagi korban berjalan maksimal,” tambahnya.

Meski demikian, Rika menyayangkan masih adanya sikap eksklusif dari sebagian pejabat daerah yang memandang kehadiran lembaga swadaya seperti Germas PPA sebagai pesaing, bukan mitra.

“Jika pola pikir seperti ini terus dipelihara, bagaimana mungkin kita bisa bersinergi? Kami hadir bukan untuk mengambil alih peran, melainkan untuk membantu dan memperkuat perlindungan bagi korban,” ujarnya.

Ia juga mengkritisi kurangnya aksi nyata dari UPT PPA Mandau, terutama dalam hal sosialisasi dan pendampingan langsung kepada masyarakat.

“UPT PPA seharusnya proaktif turun ke lapangan, membangun kepercayaan publik, bukan justru resisten terhadap bantuan dari pihak lain. Kami tidak hadir untuk bersaing, tapi untuk memperkuat barisan perlindungan perempuan dan anak,” pungkas Rika Parlina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

OBH YHRS Terima Penghargaan Sebagai Posbakum Terbaik se-Riau

3 September 2026 - 15:04 WIB

Dugaan Gudang Penimbunan dan Pengolahan BBM Ilegal Oplosan Miliki Yuda di Siak Jadi Sorotan, Warga Minta Aparat Bertindak

29 Agustus 2026 - 07:43 WIB

TVD Asia Dorong Sineas Indonesia Garap Vertical Drama, Pasar Konten Layar HP Kian Menjanjikan

21 Agustus 2026 - 12:04 WIB

Soroti Ribuan Kasus Kekerasan Anak, Teuku Reyza Dorong Riau Buktikan Diri sebagai Provinsi Layak Anak

14 Agustus 2026 - 17:44 WIB

TAZA IMPACT Hadirkan Ruang Diskusi “Becoming Muslim in Borderless World”, Sekaligus Peluncuran Buku Kompas Muslim di Negeri Minoritas dari Fitya Center

25 Juli 2026 - 14:28 WIB

Trending di Berita