Detakindonesianews.com, Jakarta,17 Juli 2026 – Di tengah meningkatnya volatilitas pasar global, Obligasi Negara Ritel (ORI030) dinilai menjadi salah satu pilihan investasi yang menarik bagi investor yang mengutamakan stabilitas dan keamanan. Sejumlah narasumber dalam UOB Media Literacy “Navigating Market Volatility: Building Portfolio Resilience with ORI030” menilai Indonesia mulai memasuki fase new normal pada semester II-2026, didukung fundamental ekonomi yang tetap kuat dan meningkatnya minat investor terhadap instrumen pendapatan tetap.
Demikian rangkuman dari acara UOB Media Literacy “Navigating Market Volatility: Building Portfolio Resilience with ORI030 yang digelar pada Kamis, 16 Juli 2026 di Teras Ramayana, Hotel Indonesia Kempinski Jakarta.
Hadir sebagai narasumber yakni Analis Keuangan Negara Ahli Madya dan Ketua Tim Pengembangan dan Pendalaman Pasar Surat Utang Negara DJPPR Kementerian Keuangan, Chandra A.S. Wibowo; ASEAN Economist, UOB Enrico Tanuwidjaja; dan Executive Director, Head of Deposit & Wealth Management, UOB Indonesia, Emillya Soesanto. Adapun Consumer Banking Director UOB Indonesia, Bea Teh Tan memberikan sambutan pembukaan acara.
Bea Teh Tan mengatakan, “Hari ini kita berkumpul di saat ketidakpastian terus membentuk lanskap perekonomian global. Mulai dari perubahan kebijakan moneter, dinamika geopolitik, hingga volatilitas pasar. Para investor semakin dihadapkan pada pertanyaan tentang bagaimana cara terbaik untuk melindungi sekaligus mengembangkan aset mereka.”
Namun, di tengah berbagai tantangan tersebut, Indonesia terus menunjukkan ketangguhannya. Didukung oleh fundamental ekonomi domestik yang kuat serta pengelolaan fiskal dan keuangan yang prudent, perekonomian Indonesia tetap berada pada posisi yang baik untuk menghadapi berbagai tantangan eksternal. Kondisi ini juga menjadi momentum penting untuk mendorong masyarakat agar berinvestasi secara lebih bijak, terinformasi, dan disiplin.
“Di tengah ketidakpastian global, investasi yang baik bukan sekadar mengejar imbal hasil tertinggi, tetapi memahami risiko dan tetap berfokus pada tujuan keuangan jangka panjang. Karena itu, literasi keuangan menjadi bagian penting dari komitmen UOB Indonesia dalam membantu masyarakat mengambil keputusan investasi yang tepat”,” ujarnya.
ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja mengatakan pada Semester II-2026 memasuki new normal, dimana harga minyak dunia akan stabil dengan fluktuasi yang minimum, kestabilan nilai tukar mulai terjadi, optimisme masyarakat kembali tinggi dan perilaku konsumsi dan investasi mulai kembali terjadi.
“Perang sudah 4 bulan, sehingga saat ini sudah mulai memasuki masa new normal. Semenjak krisis, semua langkah yang dilakukan membuahkan hasil. Bond inflow sudah masuk. Bank Indonesia menaikkan suku bunga. Fiskal sedikit direalokasi itu sudah betul. Nah yang perlu kita lihat selanjutnya adalah protection policy,” kata Enrico.
Dia menambahkan, di new normal ini, investor asing mulai masuk kembali ke pasar Indonesia, orang-orang mulai mencari yield yang menarik. Arahnya ke obligasi dengan yield di atas 6% dan dijamin negara. Bahkan BI Rate kemungkinan akan naik tiga kali lagi hingga akhir tahun 2026 menjadi 6,5%.
“Dengan kenaikan BI rate ini akan semakin membuat atraktif untuk berinvestasi di instrumen yang lebih aman. Apalagi ekonomi Indonesia tumbuh 5,61%, masih bagus karena di atas pertumbuhan rata-rata dunia. Asia Tenggara tetap menjadi oasis pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” ucap Enrico.
Analis Keuangan Negara Ahli Madya dan Ketua Tim Pengembangan dan Pendalaman Pasar Surat Utang Negara DJPPR Kementerian Keuangan – Chandra A.S. Wibowo mengatakan pertumbuhan perekonomian Indonesia pada Kuartal I-2026 sebesar 5,61% termasuk tinggi di kawasan, inflasi tetap terjaga sekitar 3,34% pada Juni 2026 yoy. Ini adalah salah satu bukti peran APBN cukup meredam dalam menjaga eksternal shock.
“Dari Kementerian Keuangan concern kami di pengelolaan fiskal. APBN memiliki peran menjaga stabilitas. APBN berfungsi untuk shock absorber yakni menjaga harga minyak domestik supaya terkendali atas dampaknya terhadap harga barang-barang. Dari sisi fundamental fiskal, kondisi Indonesia tetap terjaga dengan baik. Hal ini tercermin dari keputusan S&P yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil,” ujar Chandra.
Dia menambahkan dari kondisi perekonomian Indonesia ini, investor mencari keamanan, kepastian, dan fleksibilitas. SBN retail, ORI030 punya semuanya. ORI030 punya imbal hasil tetap selama 3 tahun dan 6 tahun. Dari sisi imbal hasil menawarkan lebih tinggi dan potongan pajak lebih rendah. Setiap tanggal 15 sejak ORI001 selalu tepat waktu pembayaran kupon dan pelunasan kembali. Fleksibilitas, ORI030 bisa dijual di pasar sekunder. “ORI030 sangat cocok untuk orang yang baru pertama kali berinvestasi,” ucapnya.
Chandra menjelaskan permintaan untuk ORI030 pun terlihat tinggi. Realisasi penjualan ORI030 per 16 Juli 2026 pukul 16.00 WIB sudah mencapai Rp21,9 triliun dari target kita Rp25 triliun. Penawaran hingga 30 Juli 2026. Terlihat antusiasme yang tinggi. Kalau melihat profil investor SBN Ritel selama ini mayoritas dari generasi milenial (52%).
“Saya melihat prospek investasi pada SBN Ritel sepanjang 2026 masih sangat bagus. Ke depan dari perspektif investor, hal ini masih sangat bagus. Masih ada sekitar 3 SBN yang akan ditawarkan pemerintah sampai akhir tahun nanti,” ujar Chandra.
Chandra menambahkan, “ORI030 merupakan instrumen fiskal untuk pembiayaan APBN. Bagi masyarakat, ORI030 merupakan instrumen investasi yang kompetitif dan menarik. Masyarakat double return yakni return finansial dan return sosial, berkontribusi bagi pembangunan nasional. Apalagi dalam ORI030 tenor 6 tahun (ORI030T6), kami memberi label SDGs bond ritel sebagai tematik ritel, bond convensional demi mencapai target SDGs pada tahun 2030.”
Head of Deposit & Wealth Management UOB Indonesia, Emillya Soesanto mengatakan valuasi pasar saham Indonesia saat ini sudah sangat murah. Secara valuasi sangat menarik apalagi pemerintah sangat menjaga kestabilan mata uang rupiah.
“Kalau melihat apa yang dilakukan regulator, sudah terkoordinasi dengan baik dan respon cepat yakni ketika BI menaikkan suku bunga BI Rate ke 5,75% dan imbal hasil obligasi stabil. Pada Semester II-2026 ini kita melihat peluang investasi terbuka lebar, khususnya di pasar obligasi ritel dengan imbal hasil obligasi 7%, yakni ORI030 dengan tenor 6 tahun menjadi pilihan. ORI030 sangat cocok untuk profil investor konservatif. Saat ini merupakan kesempatan yang bagus untuk menambah portofolio kita karena imbal hasilnya bagus, keamanan terjamin,” ujar Emiliya.
Emillya menekankan pentingnya menerapkan Risk-First Approach melalui tiga prinsip utama, yaitu be prepared, diversify, dan be strategic. Investor tidak perlu menunggu kondisi pasar ideal karena volatilitas merupakan bagian dari siklus investasi. Selain itu, membangun portofolio yang terdiversifikasi dinilai lebih penting daripada menebak arah pasar, sementara instrumen pendapatan tetap tetap relevan sebagai salah satu komponen strategis dalam menjaga ketahanan portofolio.
ORI030 ditawarkan pemerintah melalui mitra distribusi, termasuk UOB Indonesia, hingga 30 Juli 2026. Melalui kegiatan Media Literacy Circle ini, UOB berharap masyarakat semakin memahami pentingnya membangun portofolio investasi yang seimbang, sesuai profil risiko, serta didukung pemahaman terhadap kondisi ekonomi dan pasar.
