Detakindonesianews.com, Tangerang – Industri logistik menghadapi tantangan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya kondusif. Meski demikian, kebutuhan distribusi barang tetap menjadi penopang utama aktivitas berbagai sektor usaha, terutama industri makanan dan minuman yang membutuhkan penanganan khusus untuk menjaga kualitas produk hingga sampai ke tangan konsumen.
Di tengah situasi tersebut, layanan rantai dingin atau cold chain logistics semakin strategis. Sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas penyimpanan bersuhu terkendali, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas produk selama proses distribusi.
Chief Marketing & Sales Officer Cold Space, David Loei, mengatakan kondisi bisnis sepanjang tahun ini cukup menantang bagi pelaku usaha. Namun, kebutuhan logistik tetap berjalan karena hampir seluruh sektor industri bergantung pada kelancaran distribusi.
Menurut David, kegiatan pameran dan pertemuan bisnis juga menjadi momentum penting untuk membuka peluang kerja sama serta mendorong aktivitas ekonomi.
“Semua industri membutuhkan logistik, terutama industri makanan yang produknya mudah rusak. Mereka membutuhkan fasilitas pendingin untuk mendukung seluruh aktivitas distribusi,” ujar David saat ditemui redaksi Beritakota.id di pameran KRISTA InterFOOD 2026, Rabu (4/11/2026).
Melihat kebutuhan tersebut, Cold Space mengembangkan layanan logistik terintegrasi yang mencakup proses distribusi dari hulu hingga hilir. Layanan ini meliputi penyediaan kontainer, pergudangan, armada truk, pengiriman menggunakan kendaraan roda dua, hingga layanan fulfillment untuk memenuhi pesanan pelanggan.
David menjelaskan, sistem layanan tersebut dirancang untuk menangani berbagai kebutuhan rantai pasok, mulai dari barang masuk melalui jalur impor maupun manufaktur, penyimpanan di gudang, hingga pengiriman ke pusat distribusi dan toko.
“Kami membangun solusi dari awal sampai akhir. Mulai dari kontainer, gudang, truk, pengiriman menggunakan motor, sampai fulfillment untuk kebutuhan penjualan di platform e-commerce,” katanya.
Menurut David, keberadaan fasilitas pergudangan di sejumlah kota juga menjadi faktor penting dalam mempercepat distribusi. Pelaku usaha tidak selalu dapat mengandalkan satu gudang besar karena kebutuhan pengiriman ke kawasan perkotaan dan toko memerlukan jaringan distribusi yang lebih dekat dengan pasar.
Dalam pengembangan layanan fulfillment, Cold Space saat ini memfokuskan operasional di sejumlah kota besar, yakni Jakarta, Surabaya, dan Medan. Layanan tersebut ditujukan untuk membantu pelanggan menangani pemenuhan pesanan hingga pengiriman kepada konsumen, termasuk untuk mendukung aktivitas perdagangan melalui platform digital.
Untuk memberikan kemudahan pemantauan, perusahaan juga menyediakan sistem informasi yang memungkinkan pelanggan mengetahui perkembangan distribusi barang. Komunikasi langsung dengan tim operasional turut menjadi sarana bagi pelanggan untuk memperoleh informasi mengenai status pengiriman.
Dari sisi kapasitas operasional, David mengungkapkan Cold Space saat ini memiliki lebih dari 200 unit armada dan sekitar 700 kontainer. Infrastruktur tersebut menjadi modal perusahaan dalam mendukung kebutuhan penyimpanan dan pengiriman barang pelanggan.
Sementara itu, terkait tarif layanan, Cold Space menerapkan skema biaya berdasarkan kebutuhan masing-masing pelanggan. Perusahaan belum menetapkan tarif tetap yang dipublikasikan secara umum karena karakteristik kebutuhan logistik setiap bisnis berbeda.
“Untuk harga, kami belum merilis tarif tetap karena biasanya disesuaikan dengan kebutuhan customer,” ujarnya.
Dengan mengembangkan layanan terintegrasi, Cold Space melihat kebutuhan logistik bukan sekadar persoalan memindahkan barang dari satu lokasi ke lokasi lain. Kecepatan distribusi, kapasitas penyimpanan, serta kemampuan menjaga kualitas produk menjadi faktor penting dalam mendukung keberlangsungan rantai pasok, khususnya bagi industri makanan dan minuman.
