Menu

Mode Gelap
Pecah dan Penuh Kejutan! Mendadak Duel Masak Bareng Aldi Taher dan Chef Hideki di Rumah Indofood Jakarta Fair Kemayoran 2026 Next Gen Choice, Buku Full English Erlangga Selaras Kurikulum Merdeka Nurul Quran Centre Singapura Konsisten Tebar Dakwah dan Amanah Qurban Internasional, Masuki Tahun Ke-6 Pengabdian Umat GIIAS 2026 Siap Digelar Hadirkan Merek Baru dengan Jajaran Merek Paling Lengkap dan Komprehensif  RAZIA MALAM BONGKAR REALITA THM RP: PEREMPUAN JADI PIHAK PALING RENTAN, GERMAS PPA Riau BUKA SUARA Mengusung Tema “2 Dekade: Next Level Legacy”, PWN 2026 Menjadi Momentum Estafet Kepemimpinan TDA dan Penguatan Ekosistem Kewirausahaan Indonesia  TDI Laporkan Dugaan Penipuan dan Penggelapan Saham Rp381,5 Miliar ke Bareskrim Polri Viu dan iQIYI International Luncurkan Paket Langganan Streaming di Asia Tenggara Bareskrim POLRI Berhasil Menangkap Buronan Narkoba Frans Anthony di Malaysia Iskandar Halim Munthe Laporkan Dugaan Sengketa 5.900 Hektare Lahan di Lahat ke Satgas Antimafia Tanah JAKALCER FEST 2026 Hadir di Pasar Seni Ancol – Rumah Kreativitas Jakarta Menuju 5 Abad Kota Jakarta

Nasional

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) Resmi Membuka Kick-Off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu Di Gedung Mina Bahari III Jakarta

Perbesar

Detakindonesianews.com, Jakarta, 4 Mei 2026 – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), secara resmi membuka Kick-Off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu di Gedung Mina Bahari III, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Senin (4/5/2026).

Kegiatan ini menjadi langkah awal pemerintah dalam mengorkestrasi pembangunan perlindungan pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa melalui proyek strategis nasional, termasuk pembangunan Giant Sea Wall (GSW) yang akan berjalan secara bertahap dalam kurun waktu 15 hingga 20 tahun.

Dalam arahannya, AHY menegaskan bahwa Pantura Jawa merupakan kawasan yang sangat strategis karena menjadi koridor ekonomi, industri, transportasi, logistik, hingga sentra pangan nasional yang berkontribusi sekitar 23 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Pantura menghadapi dua tekanan besar sekaligus, yaitu penurunan permukaan tanah (land subsidence) dan kenaikan permukaan air laut yang memicu banjir rob. Ini ancaman nyata bagi jutaan masyarakat pesisir,” ujar AHY.

Ia mengungkapkan bahwa tanpa intervensi serius, penurunan tanah di kawasan Pantura dapat mencapai 1 hingga 20 cm per tahun. Kondisi ini diperparah oleh intrusi air laut serta ketidakseimbangan tata ruang di wilayah hulu.

Lebih dari itu, sekitar 17 juta dari total 52 juta penduduk di kawasan Pantura hidup dalam risiko langsung akibat ancaman tersebut, termasuk para nelayan yang menggantungkan hidupnya dari wilayah pesisir.

Pendekatan Hybrid dan Kolaborasi Besar

AHY menekankan bahwa pembangunan tidak hanya mengandalkan infrastruktur keras (grey infrastructure), tetapi juga mengedepankan pendekatan hybrid dengan solusi berbasis alam seperti rehabilitasi mangrove.

“Tidak semua harus dibangun dengan beton. Kita kombinasikan dengan pendekatan alami seperti mangrove yang mampu menahan abrasi sekaligus menyerap karbon dan mendukung ekonomi lokal,” jelasnya.

Proyek ini akan mencakup pembangunan sepanjang kurang lebih 575 kilometer yang dibagi ke dalam 15 segmen agar dapat dikerjakan secara paralel dan lebih efektif.

Pemerintah juga melibatkan sedikitnya 23 kementerian dan lembaga, pemerintah daerah di 5 provinsi, 20 kabupaten, dan 5 kota, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Pendanaan dan Skema Kerja Sama

Sebagai proyek berskala besar, pembangunan ini tidak hanya mengandalkan APBN, tetapi juga membuka peluang investasi melalui skema public-private partnership (PPP), baik dari dalam maupun luar negeri.

“Ini mega proyek yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan lintas generasi. Kita membangun super team agar perencanaan, penganggaran, hingga eksekusi berjalan terpadu,” tegas AHY.

Perlindungan dan Kesejahteraan Nelayan

Dalam kesempatan tersebut, AHY juga memastikan bahwa kebijakan relokasi nelayan yang terdampak proyek akan dilakukan dengan pendekatan kesejahteraan.

“Relokasi bukan untuk menggusur, tetapi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat nelayan agar lebih baik dan berkelanjutan,” ujarnya.

Program ini akan terintegrasi dengan konsep Kampung Nelayan Merah Putih, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ekonomi pesisir.

Komitmen Bersama

Kick-off meeting ini menjadi tonggak awal komitmen bersama pemerintah pusat, daerah, akademisi, dan masyarakat untuk menyelamatkan kawasan Pantura Jawa dari ancaman krisis lingkungan sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi nasional.

“Ini adalah langkah awal. Kita ingin memastikan semangat ini terus terjaga dan masyarakat memahami urgensi serta manfaat dari program besar ini,” pungkas AHY.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mengusung Tema “2 Dekade: Next Level Legacy”, PWN 2026 Menjadi Momentum Estafet Kepemimpinan TDA dan Penguatan Ekosistem Kewirausahaan Indonesia 

20 Juni 2026 - 07:44 WIB

JAKALCER FEST 2026 Hadir di Pasar Seni Ancol – Rumah Kreativitas Jakarta Menuju 5 Abad Kota Jakarta

19 Juni 2026 - 06:58 WIB

ARTA Bidik Pendapatan Rp100 Miliar pada 2026, Pemegang Saham Setujui Penguatan Struktur Permodalan

19 Juni 2026 - 04:02 WIB

Ducati Indonesia Luncurkan DesertX V2 dan Resmikan Showroom Baru di Pondok Indah

19 Juni 2026 - 03:54 WIB

Halal Indonesia International Industry Expo 2026 Melalui Halal Indo 2026, Pemerintah Dorong Akselerasi Industri Halal Nasional Berdaya Saing Global

19 Juni 2026 - 03:16 WIB

Trending di Nasional