Menu

Mode Gelap
11 Ribu Peserta Siap Meriahkan Kemala Run 2026 di Bali ISOPLUS Run Series 2026 Kembali Digelar di Jakarta dan Surabaya, Ajak 17.000 Pelari Indonesia Unlock Your Greatness Ketua Yayasan MADINAH Melki Sandria Jalin Kerja Sama dengan Dubes Palestina Abdallfattah A.K. Alsattari untuk Bantuan Gaza 402 Relawan Turun ke Lokasi Bencana, Menteri Dody Apresiasi Dedikasi Generasi Muda PU dalam Penanganan Bencana di Sumatera GERMAS PPA Riau Dukung Program Green Policing Polda Riau, Dorong Perlindungan Perempuan dan Anak Berbasis Lingkungan myBCA International Java Jazz Festival 2026: 21 Tahun Java Festival Production Menghubungkan Generasi, Membuka Lembar Perayaan Berikutnya Indonesia – UNFPA Percepat Target SDGS Melalui Program Kerja Sama Siklus 11, 2026 – 2030 Diduga Jadi Korban Penipuan Oleh Suami Mantan Gadis Popular Semarak Peringatan Hari Kartini di Taman Impian Jaya Ancol  : Penguatan Peran Perempuan di Industri Wisata Kapolda Metro Jaya Pimpin Apel 2.098 Personel Brimob di Stadion Presisi, Tekankan Sikap Disiplin dan Humanis Brimob Metro Jaya Sigap Bantu Pemadaman dan Amankan Lokasi Kebakaran Gedung Kemendagri Halal Bihalal KAI Commuter Bersama Stakeholder dan Media: Pengguna KRL Tembus 24,4 Juta, Lampaui Target Lebaran 2026

Nasional

Aksi Global Desak World Bank Hentikan Pendanaan Rp140 Triliun untuk Peternakan Intensif

Perbesar

Detakindonesianews.com, Jakarta, 17 April 2026 – Aksi serentak di 20 negara, termasuk di depan kantor World Bank di Jakarta, digelar oleh Act for Farmed Animals (AFFA) bersama koalisi Stop Financing Factory Farming (S3F) untuk mendesak penghentian pendanaan peternakan intensif serta rencana peningkatan pendanaan hingga US$9 miliar (sekitar Rp140 triliun) per tahun pada 2030.

Pendanaan ini akan mempercepat krisis iklim, kerusakan lingkungan, hilangnya keanekaragaman hayati, serta memperburuk penderitaan hewan dan masyarakat adat. Aksi dilakukan dengan menampilkan instalasi hewan ternak yang terdampak.

“World Bank tidak menjalankan praktik prinsip keberlanjutan yang melindungi planet Bumi dan makhluk hidup lainnya. Dengan memperluas dan meningkatkan investasi pada industri peternakan intensif, sama saja mendanai percepatan krisis iklim, melanggengkan penderitaan yang kejam pada hewan, hilangnya keanekaragaman hayati dan mengancam kesehatan masyarakat secara global,”ujar Elfha Shavira, pemimpin kampanye Act for Farmed Animals.

“Kami berharap World Bank segera berhenti mendanai peternakan intensif dan beralih ke pendanaan yang memperhatikan kesejahteraan hewan serta keberlanjutan Bumi,” tegas Elfha.

Sistem peternakan intensif (Animal Feeding Operations/AFO) berkontribusi terhadap pencemaran udara berbahaya, khususnya partikel halus PM2.5. Dampak polusi ini tidak merata—komunitas rentan, termasuk masyarakat adat, menjadi kelompok yang paling terdampak. Selain itu, fakta krusial: sekitar 80% lahan pertanian global saat ini digunakan untuk industri peternakan intensif, baik untuk penggembalaan maupun produksi pakan. Produksi kedelai menjadi salah satu pendorong utama, di mana 77% kedelai dunia digunakan sebagai pakan ternak, bukan untuk konsumsi manusia.

Ketimpangan ini berdampak langsung pada Indonesia. Ketergantungan impor bungkil kedelai untuk pakan ternak meningkatkan kerentanan ekonomi nasional, terutama saat terjadi fluktuasi harga global yang berujung pada kenaikan harga pangan. Dan juga alih fungsi hutan dan lahan untuk perluasan peternakan yang akan menghilangkan keanekaragaman hayati.

“Deforestasi adalah salah satu penyebab utama dari krisis iklim. Deforestasi yang masif untuk peternakan intensif dan pakan bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada keadilan sosial. Secara global, dampaknya dirasakan oleh berbagai lapisan, termasuk masyarakat adat yang kehilangan ruang hidupnya saat kita dihadapkan pada krisis air dan cuaca ekstrem. Investasi sektor perbankan seharusnya diarahkan pada sistem pangan yang berkelanjutan, berketahanan iklim seperti pangan nabati yang berbasis lokal di Indonesia,” ujar Arie Utami, Managing Director Act for Farmed Animals.

Sebagai kelanjutan dari aksi ini, Act for Farmed Animals akan mengadakan webinar untuk membedah lebih dalam mengenai dampak sistemik peternakan intensif terhadap ekonomi, lingkungan, dan komunitas terdampak.

Dukung gerakan ini dengan menandatangani petisi di: https://www.sinergiaanimalinternational.org/divestment-campaign

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Indonesia – UNFPA Percepat Target SDGS Melalui Program Kerja Sama Siklus 11, 2026 – 2030

21 April 2026 - 08:50 WIB

Semarak Peringatan Hari Kartini di Taman Impian Jaya Ancol  : Penguatan Peran Perempuan di Industri Wisata

21 April 2026 - 06:51 WIB

Brimob Metro Jaya Sigap Bantu Pemadaman dan Amankan Lokasi Kebakaran Gedung Kemendagri

20 April 2026 - 16:41 WIB

Halal Bihalal KAI Commuter Bersama Stakeholder dan Media: Pengguna KRL Tembus 24,4 Juta, Lampaui Target Lebaran 2026

20 April 2026 - 11:26 WIB

Harga Emas Tetap Stabil, Nellava Bullion Jadi Pilihan di Tengah Lonjakan Pasar

19 April 2026 - 12:12 WIB

Trending di Nasional