Menu

Mode Gelap
Pecah dan Penuh Kejutan! Mendadak Duel Masak Bareng Aldi Taher dan Chef Hideki di Rumah Indofood Jakarta Fair Kemayoran 2026 Next Gen Choice, Buku Full English Erlangga Selaras Kurikulum Merdeka Nurul Quran Centre Singapura Konsisten Tebar Dakwah dan Amanah Qurban Internasional, Masuki Tahun Ke-6 Pengabdian Umat GIIAS 2026 Siap Digelar Hadirkan Merek Baru dengan Jajaran Merek Paling Lengkap dan Komprehensif  RAZIA MALAM BONGKAR REALITA THM RP: PEREMPUAN JADI PIHAK PALING RENTAN, GERMAS PPA Riau BUKA SUARA Mengusung Tema “2 Dekade: Next Level Legacy”, PWN 2026 Menjadi Momentum Estafet Kepemimpinan TDA dan Penguatan Ekosistem Kewirausahaan Indonesia  TDI Laporkan Dugaan Penipuan dan Penggelapan Saham Rp381,5 Miliar ke Bareskrim Polri Viu dan iQIYI International Luncurkan Paket Langganan Streaming di Asia Tenggara Bareskrim POLRI Berhasil Menangkap Buronan Narkoba Frans Anthony di Malaysia Iskandar Halim Munthe Laporkan Dugaan Sengketa 5.900 Hektare Lahan di Lahat ke Satgas Antimafia Tanah JAKALCER FEST 2026 Hadir di Pasar Seni Ancol – Rumah Kreativitas Jakarta Menuju 5 Abad Kota Jakarta

Nasional

Aksi Global Desak World Bank Hentikan Pendanaan Rp140 Triliun untuk Peternakan Intensif

Perbesar

Detakindonesianews.com, Jakarta, 17 April 2026 – Aksi serentak di 20 negara, termasuk di depan kantor World Bank di Jakarta, digelar oleh Act for Farmed Animals (AFFA) bersama koalisi Stop Financing Factory Farming (S3F) untuk mendesak penghentian pendanaan peternakan intensif serta rencana peningkatan pendanaan hingga US$9 miliar (sekitar Rp140 triliun) per tahun pada 2030.

Pendanaan ini akan mempercepat krisis iklim, kerusakan lingkungan, hilangnya keanekaragaman hayati, serta memperburuk penderitaan hewan dan masyarakat adat. Aksi dilakukan dengan menampilkan instalasi hewan ternak yang terdampak.

“World Bank tidak menjalankan praktik prinsip keberlanjutan yang melindungi planet Bumi dan makhluk hidup lainnya. Dengan memperluas dan meningkatkan investasi pada industri peternakan intensif, sama saja mendanai percepatan krisis iklim, melanggengkan penderitaan yang kejam pada hewan, hilangnya keanekaragaman hayati dan mengancam kesehatan masyarakat secara global,”ujar Elfha Shavira, pemimpin kampanye Act for Farmed Animals.

“Kami berharap World Bank segera berhenti mendanai peternakan intensif dan beralih ke pendanaan yang memperhatikan kesejahteraan hewan serta keberlanjutan Bumi,” tegas Elfha.

Sistem peternakan intensif (Animal Feeding Operations/AFO) berkontribusi terhadap pencemaran udara berbahaya, khususnya partikel halus PM2.5. Dampak polusi ini tidak merata—komunitas rentan, termasuk masyarakat adat, menjadi kelompok yang paling terdampak. Selain itu, fakta krusial: sekitar 80% lahan pertanian global saat ini digunakan untuk industri peternakan intensif, baik untuk penggembalaan maupun produksi pakan. Produksi kedelai menjadi salah satu pendorong utama, di mana 77% kedelai dunia digunakan sebagai pakan ternak, bukan untuk konsumsi manusia.

Ketimpangan ini berdampak langsung pada Indonesia. Ketergantungan impor bungkil kedelai untuk pakan ternak meningkatkan kerentanan ekonomi nasional, terutama saat terjadi fluktuasi harga global yang berujung pada kenaikan harga pangan. Dan juga alih fungsi hutan dan lahan untuk perluasan peternakan yang akan menghilangkan keanekaragaman hayati.

“Deforestasi adalah salah satu penyebab utama dari krisis iklim. Deforestasi yang masif untuk peternakan intensif dan pakan bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada keadilan sosial. Secara global, dampaknya dirasakan oleh berbagai lapisan, termasuk masyarakat adat yang kehilangan ruang hidupnya saat kita dihadapkan pada krisis air dan cuaca ekstrem. Investasi sektor perbankan seharusnya diarahkan pada sistem pangan yang berkelanjutan, berketahanan iklim seperti pangan nabati yang berbasis lokal di Indonesia,” ujar Arie Utami, Managing Director Act for Farmed Animals.

Sebagai kelanjutan dari aksi ini, Act for Farmed Animals akan mengadakan webinar untuk membedah lebih dalam mengenai dampak sistemik peternakan intensif terhadap ekonomi, lingkungan, dan komunitas terdampak.

Dukung gerakan ini dengan menandatangani petisi di: https://www.sinergiaanimalinternational.org/divestment-campaign

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mengusung Tema “2 Dekade: Next Level Legacy”, PWN 2026 Menjadi Momentum Estafet Kepemimpinan TDA dan Penguatan Ekosistem Kewirausahaan Indonesia 

20 Juni 2026 - 07:44 WIB

JAKALCER FEST 2026 Hadir di Pasar Seni Ancol – Rumah Kreativitas Jakarta Menuju 5 Abad Kota Jakarta

19 Juni 2026 - 06:58 WIB

ARTA Bidik Pendapatan Rp100 Miliar pada 2026, Pemegang Saham Setujui Penguatan Struktur Permodalan

19 Juni 2026 - 04:02 WIB

Ducati Indonesia Luncurkan DesertX V2 dan Resmikan Showroom Baru di Pondok Indah

19 Juni 2026 - 03:54 WIB

Halal Indonesia International Industry Expo 2026 Melalui Halal Indo 2026, Pemerintah Dorong Akselerasi Industri Halal Nasional Berdaya Saing Global

19 Juni 2026 - 03:16 WIB

Trending di Nasional