Menu ✖

Mode Gelap
KRISTA INTERFOOD 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan 1.100 Peserta dari 16 Negara dan Bidik 95 Ribu Pengunjung Profesional Dukung Kebutuhan Fisioterapi Berbagai Generasi, Physiorehab Buka Cabang Terbesar di Muara Karang Rayakan Tradisi Sangjit Lebih Berkesan, Vega Hotel Gading Serpong Tawarkan Paket Lengkap Rp18 Juta Mogul Burger Buka Gerai di The Breeze BSD, Hadirkan Sensasi Smash Burger dan Minuman Khas Sumatera Soda Badak Fadli Zon Resmikan Rupakala 2026, 80 Seniman Unjuk Karya dan Inovasi Seni Media di Bogor Shopee 11.11 Big Sale Hadirkan Warna Baru, Kolaborasi no na Bikin Keseruan Belanja Makin Naik Level! Jagat Satwa Nusantara Berangkatkan Tujuh Merak Hijau ke Taman Nasional Ujung Kulon untuk Dilepasliarkan Collective Studios, Galleri5, dan KEK Singhasari Berkolaborasi Kembangkan Cerita Indonesia untuk Pasar Global Ancol Gelar Dzikir dan Shalawat, 5.000 Peserta Sambut Jakarta Menuju Usia 500 Tahun

Nasional

Aksi 1000 Lilin untuk Kristophel, Keluarga Pertanyakan Kasus yang Dihentikan

Perbesar

PEKANBARU, Detak Indonesia News – Ratusan warga berkumpul di Tugu Perjuangan, Selasa (26/8/2025) malam, dalam aksi doa bersama dan penyalaan 1000 lilin memperingati 90 hari meninggalnya Kristophel Butar-Butar, korban bullying di Indragiri Hulu.

Dengan membawa lilin, bunga kamboja, dan replika jenazah, massa menyerukan agar kasus Kristophel kembali dibuka. Suasana haru menyelimuti acara, ketika keluarga korban menyampaikan kekecewaan karena proses hukum yang sudah berjalan justru dihentikan.

“Hati seorang ibu terkoyak. Anak saya ingin pintar, bukan untuk dihajar di sekolah. Tolong dengarkan jeritan hati kami,” ujar Siska, ibu almarhum, dengan tangis haru.

Perwakilan keluarga, Viator Butar Butar, menegaskan pihaknya heran atas keputusan penghentian penyelidikan. “Perkara ini jelas pidananya. Tapi mengapa diberhentikan? Kami ingin anak kami mendapat keadilan,” tegasnya.

Wakil Ketua Umum Germas Perlindungan Perempuan dan Anak, Rika Palrina, menyatakan komitmen untuk memperjuangkan kasus ini hingga tingkat pemerintah pusat. “Ini luka kita bersama. Bullying adalah kejahatan, bukan sekadar kenakalan,” katanya.

Seorang peserta aksi, Rabi (22), mahasiswa yang turut hadir, menyebut bahwa kasus Kristophel harus menjadi momentum perubahan. “Kami turun ke jalan karena tidak ingin ada lagi Kristophel-Kristophel lain. Negara harus hadir melindungi anak-anak dari kekerasan di sekolah,” ucapnya.

Pemerintah Provinsi Riau melalui perwakilannya, Rudy Hartono dari Biro Kesra, turut hadir dan menyampaikan belasungkawa, sekaligus menegaskan akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk mencari solusi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KRISTA INTERFOOD 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan 1.100 Peserta dari 16 Negara dan Bidik 95 Ribu Pengunjung Profesional

4 November 2026 - 12:42 WIB

Jagat Satwa Nusantara Berangkatkan Tujuh Merak Hijau ke Taman Nasional Ujung Kulon untuk Dilepasliarkan

3 November 2026 - 14:19 WIB

Collective Studios, Galleri5, dan KEK Singhasari Berkolaborasi Kembangkan Cerita Indonesia untuk Pasar Global

3 November 2026 - 13:20 WIB

Dukung Kebutuhan Fisioterapi Berbagai Generasi, Physiorehab Buka Cabang Terbesar di Muara Karang

3 November 2026 - 12:58 WIB

Ancol Gelar Dzikir dan Shalawat, 5.000 Peserta Sambut Jakarta Menuju Usia 500 Tahun

2 November 2026 - 07:39 WIB

Trending di Nasional