Menu

Mode Gelap
Pecah dan Penuh Kejutan! Mendadak Duel Masak Bareng Aldi Taher dan Chef Hideki di Rumah Indofood Jakarta Fair Kemayoran 2026 Next Gen Choice, Buku Full English Erlangga Selaras Kurikulum Merdeka Nurul Quran Centre Singapura Konsisten Tebar Dakwah dan Amanah Qurban Internasional, Masuki Tahun Ke-6 Pengabdian Umat GIIAS 2026 Siap Digelar Hadirkan Merek Baru dengan Jajaran Merek Paling Lengkap dan Komprehensif  RAZIA MALAM BONGKAR REALITA THM RP: PEREMPUAN JADI PIHAK PALING RENTAN, GERMAS PPA Riau BUKA SUARA Mengusung Tema “2 Dekade: Next Level Legacy”, PWN 2026 Menjadi Momentum Estafet Kepemimpinan TDA dan Penguatan Ekosistem Kewirausahaan Indonesia  TDI Laporkan Dugaan Penipuan dan Penggelapan Saham Rp381,5 Miliar ke Bareskrim Polri Viu dan iQIYI International Luncurkan Paket Langganan Streaming di Asia Tenggara Bareskrim POLRI Berhasil Menangkap Buronan Narkoba Frans Anthony di Malaysia Iskandar Halim Munthe Laporkan Dugaan Sengketa 5.900 Hektare Lahan di Lahat ke Satgas Antimafia Tanah JAKALCER FEST 2026 Hadir di Pasar Seni Ancol – Rumah Kreativitas Jakarta Menuju 5 Abad Kota Jakarta

Nasional

Aksi 1000 Lilin untuk Kristophel, Keluarga Pertanyakan Kasus yang Dihentikan

Perbesar

PEKANBARU, Detak Indonesia News – Ratusan warga berkumpul di Tugu Perjuangan, Selasa (26/8/2025) malam, dalam aksi doa bersama dan penyalaan 1000 lilin memperingati 90 hari meninggalnya Kristophel Butar-Butar, korban bullying di Indragiri Hulu.

Dengan membawa lilin, bunga kamboja, dan replika jenazah, massa menyerukan agar kasus Kristophel kembali dibuka. Suasana haru menyelimuti acara, ketika keluarga korban menyampaikan kekecewaan karena proses hukum yang sudah berjalan justru dihentikan.

“Hati seorang ibu terkoyak. Anak saya ingin pintar, bukan untuk dihajar di sekolah. Tolong dengarkan jeritan hati kami,” ujar Siska, ibu almarhum, dengan tangis haru.

Perwakilan keluarga, Viator Butar Butar, menegaskan pihaknya heran atas keputusan penghentian penyelidikan. “Perkara ini jelas pidananya. Tapi mengapa diberhentikan? Kami ingin anak kami mendapat keadilan,” tegasnya.

Wakil Ketua Umum Germas Perlindungan Perempuan dan Anak, Rika Palrina, menyatakan komitmen untuk memperjuangkan kasus ini hingga tingkat pemerintah pusat. “Ini luka kita bersama. Bullying adalah kejahatan, bukan sekadar kenakalan,” katanya.

Seorang peserta aksi, Rabi (22), mahasiswa yang turut hadir, menyebut bahwa kasus Kristophel harus menjadi momentum perubahan. “Kami turun ke jalan karena tidak ingin ada lagi Kristophel-Kristophel lain. Negara harus hadir melindungi anak-anak dari kekerasan di sekolah,” ucapnya.

Pemerintah Provinsi Riau melalui perwakilannya, Rudy Hartono dari Biro Kesra, turut hadir dan menyampaikan belasungkawa, sekaligus menegaskan akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk mencari solusi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mengusung Tema “2 Dekade: Next Level Legacy”, PWN 2026 Menjadi Momentum Estafet Kepemimpinan TDA dan Penguatan Ekosistem Kewirausahaan Indonesia 

20 Juni 2026 - 07:44 WIB

JAKALCER FEST 2026 Hadir di Pasar Seni Ancol – Rumah Kreativitas Jakarta Menuju 5 Abad Kota Jakarta

19 Juni 2026 - 06:58 WIB

ARTA Bidik Pendapatan Rp100 Miliar pada 2026, Pemegang Saham Setujui Penguatan Struktur Permodalan

19 Juni 2026 - 04:02 WIB

Ducati Indonesia Luncurkan DesertX V2 dan Resmikan Showroom Baru di Pondok Indah

19 Juni 2026 - 03:54 WIB

Halal Indonesia International Industry Expo 2026 Melalui Halal Indo 2026, Pemerintah Dorong Akselerasi Industri Halal Nasional Berdaya Saing Global

19 Juni 2026 - 03:16 WIB

Trending di Nasional