Detakindonesianews.com, Tangerang — Setelah dua dekade menjadi ikon musik jazz di Jakarta, Java Jazz Festival membuka babak baru. Mulai tahun depan, festival musik tahunan itu resmi berpindah dari Jiexpo Kemayoran ke Nusantara International Convention and Exhibition (NICE) PIK 2, Tangerang. Perubahan ini menandai usia ke-21 Java Jazz sekaligus ambisi barunya untuk menjadi festival dengan skala internasional yang lebih besar.
Presiden Direktur Java Festival Production, Dewi Gontha, menyebut perpindahan ini bukan sekadar soal lokasi, melainkan langkah kreatif menuju kolaborasi lintas bidang.

“Kami merasa sudah waktunya bereksperimen dan berkreasi lebih luas. Tahun depan Java Jazz bukan hanya tentang musik, tapi juga tentang musik dan seni,” ujar Dewi dalam konferensi pers di NICE PIK 2, Kamis, 30 Oktober 2025.
Dengan area yang lebih luas dibandingkan venue sebelumnya, NICE memberi peluang bagi Java Jazz untuk mengundang lebih banyak seniman visual, instalasi, hingga kreator lokal. “Banyak rekanan yang belum sempat kami ajak selama ini bisa bergabung karena kapasitasnya jauh lebih besar,” kata Dewi.
Sementara itu, pendiri Java Jazz Festival, Peter F. Gontha, menegaskan bahwa keputusan berpindah lokasi adalah bagian dari evolusi festival yang lahir dari keberanian dua dekade silam.
“Ini bukan hanya soal tempat baru, tapi soal evolusi, visi, dan keberanian. Kami ingin Java Jazz punya rumah yang lebih besar dan masa depan yang lebih luas,” katanya.
Peter menambahkan, lokasi NICE dipilih karena strategis dan mudah diakses. “Dekat dengan bandara, hotel, dan terhubung langsung lewat tol dari Jakarta Selatan. Berdasarkan survei kami, 68 persen pengunjung Java Jazz berasal dari Jakarta Selatan—mayoritas anak muda, mahasiswa, dan milenial,” ujarnya.
Namun bagi Peter, perubahan besar ini juga menyimpan nostalgia. Ia mengenang suasana Hotel Borobudur, tempat para musisi dunia seperti Sting, Stevie Wonder, hingga Santana pernah tampil spontan hingga dini hari. “Itu suasana yang akan kita rindukan,” ujarnya. “Tapi kita tidak akan berhenti di sini. Masa depan Java Jazz ada di NICE.”
Peter menuturkan, kawasan NICE tengah berkembang menjadi pusat musik dan gaya hidup baru. “Di sini akan hadir jaringan hotel bintang lima seperti Hilton dan Osaka Hotel. Semua berada di satu kawasan, sehingga musisi dan tamu mancanegara dapat menikmati pengalaman festival dengan nyaman,” katanya.
Selain itu, Java Jazz akan menggelar Gala Night yang lebih megah dimalam sebelum festival dimulai, tempat para musisi dan tamu kehormatan berkumpul dalam suasana penuh musik dan kemegahan.
“Tahun depan bukan sekadar perayaan 21 tahun Java Jazz, tapi awal dari semangat baru Indonesia yang bangkit lewat musik dan budaya,” ujar Peter.
Ia juga mengumumkan kolaborasi baru dengan Royal Group dan sejumlah mitra internasional untuk memperluas promosi festival di Australia, Jepang, Korea, dan Malaysia. “Kita harus membuat para musisi mancanegara datang ke Indonesia, bukan hanya terbang melewati langit kita,” ujarnya berseloroh.
Java Jazz 2026 dijadwalkan berlangsung pada 29–31 Mei 2026, menampilkan 12 panggung dengan kombinasi area indoor dan outdoor di Exhibition Hall A, Exhibition Hall C, serta ruang terbuka di sekitar kompleks NICE. Selain konser musik, festival juga akan menghadirkan area pameran, UMKM, dan kolaborasi seni visual.
Peter mengisyaratkan akan ada penampilan spesial dari Eros Djarot, yang akan membawakan karya legendaris Badai Pasti Berlalu dalam aransemen jazz. “Kami ingin menampilkan sesuatu yang ikonik dari Indonesia dalam format yang baru dan segar,” katanya.
Tak hanya dari Indonesia, sejumlah musisi internasional pun mulai memastikan kehadirannya, termasuk penyanyi Malaysia Nurin Ajis. Dari dalam negeri, Yuni Shara juga dijadwalkan tampil dengan balutan jazz.
Langkah besar ini, menurut Peter, adalah bagian dari upaya menempatkan Indonesia dalam peta festival musik dunia.
“Kami ingin festival ini memiliki standar yang tidak kalah dengan Singapura, Jepang, atau Australia. Java Jazz harus jadi kebanggaan kita semua,” ujarnya.
















