Menu

Mode Gelap
Bupati HIMA Ilmu Pemerintahan Universitas Abdurrab Murti Salma Kecam Dugaan Pelecehan Siswi oleh Oknum Guru di Pekanbaru VinFast Tandatangani Dua MoU untuk Memasok 20.000 Kendaraan Listrik Kepada Mitra Transportasi di Indonesia Mendag Budi Santoso dan Menhub Dudy Purwagandhi Sidak UMKM di KAI Services Stasiun Gambir, Sinyal Kuat Perluasan Pasar Produk Lokal di Transportasi Publik Kemala Run 2026 Bidik 10.000 Pelari di Bali, Total Hadiah Rp3,5 Miliar dan Usung Misi “Charity for Indonesia” untuk Korban Bencana Swiss-Belhotel Airport Jakarta Gelar Preview Event Ramadan 2026 dan Perkenalkan Paket Iftar “Cita Rasa Ramadan” Krista Exhibitions Paparkan Agenda Strategis 2026 dan Pastikan KRISTA INTERFOOD Digelar di NICE PIK 2, Fokus Perkuat Industri F&B dan HoReCa Nasional Proyek MLFF tetap berlanjut, pemerintah mulai tahap pengujian Ramadan Lebih Tenang Bersama Kia, New Sonet Tawarkan Kenyamanan Berkendara “Jangan Anggap Sepele!” 80% Kasus Sleep Apnea Tak Terdeteksi, PDPI Bongkar Bahaya Dengkuran di Hari Tidur Sedunia 2026 Yayasan Agung Podomoro Land Salurkan Donasi Ramadan kepada Ribuan Anak Yatim  Persiapan Lebaran Makin Praktis, Shopee Hadirkan Ragam Promo Spesial di Puncak Big Ramadan Sale 9 Maret 2026 United Tractors Dukung Delegasi Indonesia pada WorldSkills Competition 2026 United Tractors Dukung Delegasi Indonesia pada WorldSkills Competition 2026

Nasional

“Jangan Anggap Sepele!” 80% Kasus Sleep Apnea Tak Terdeteksi, PDPI Bongkar Bahaya Dengkuran di Hari Tidur Sedunia 2026

badge-check


					“Jangan Anggap Sepele!” 80% Kasus Sleep Apnea Tak Terdeteksi, PDPI Bongkar Bahaya Dengkuran di Hari Tidur Sedunia 2026 Perbesar

Detakindonesianews.com, Jakarta – Dengkuran yang selama ini dianggap tanda tidur pulas ternyata bisa menjadi “alarm kematian” yang sering diabaikan. Memperingati World Sleep Day (Hari Tidur Sedunia) pada 13 Maret 2026 bertema “Sleep Well, Live Better”, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengungkap fakta mengejutkan: sekitar 80% kasus Obstructive Sleep Apnea (OSA) di Indonesia belum terdiagnosis.

Peringatan keras ini disampaikan Ketua Pokja Sleep Apnea PDPI, Allen Widysanto, dalam webinar nasional, Selasa (3/3/2026). Menurutnya, masyarakat masih menganggap mendengkur sebagai hal biasa, padahal bisa menjadi gejala gangguan pernapasan serius saat tidur.

Prof. Allen menjelaskan, Obstructive Sleep Apnea (OSA)

OSA: Henti Napas Ratusan Kali dalam Semalam

Prof. Allen menjelaskan, Obstructive Sleep Apnea (OSA) terjadi akibat sumbatan berulang pada saluran napas atas saat tidur. Kondisi ini menyebabkan:

  • Henti napas sesaat (apnea)
  • Napas dangkal (hipopnea)
  • Penurunan kadar oksigen darah
  • Terbangun berulang kali tanpa disadari
  • “OSA dapat terjadi puluhan bahkan ratusan kali dalam satu malam. Tubuh mengalami stres berulang akibat kekurangan oksigen,” tegasnya.

Hard Value Risiko OSA:

⛔ Meningkatkan risiko stroke

⛔ Hipertensi tidak terkontrol

⛔ Penyakit jantung koroner

⛔ Gagal jantung

⛔ Kecelakaan lalu lintas akibat microsleep

⛔ Penurunan fungsi kognitif dan produktivitas kerja

Kelompok berisiko tinggi meliputi pria, penderita obesitas, lingkar leher besar, lansia, serta perempuan pascamenopause.

Ironisnya, fasilitas pemeriksaan standar emas seperti polisomnografi (sleep study) masih terbatas di layanan primer, membuat deteksi dini belum optimal.

Insomnia Ancam Generasi Produktif

Selain OSA, PDPI juga menyoroti lonjakan kasus insomnia di perkotaan. Tekanan kerja, paparan gawai, dan stres berkepanjangan menjadi pemicu utama.

Insomnia terbagi menjadi:

  • Akut (kurang dari 3 bulan, biasanya akibat stres/jet lag)
  • Kronis (lebih dari 3 bulan)

Untuk kasus kronis, terapi standar emas adalah Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia (CBT-I), dengan atau tanpa bantuan obat dalam fase awal.

 5 Jurus Sleep Hygiene dari PDPI

PDPI menegaskan bahwa kualitas tidur adalah fondasi kesehatan nasional. Berikut langkah konkret yang direkomendasikan:

1. Gunakan tempat tidur hanya untuk tidur (bukan kerja atau scroll media sosial).

2. Konsisten jam tidur dan bangun, termasuk akhir pekan.

3. Ciptakan kamar gelap, tenang, dan sejuk.

4. Hindari kafein, rokok, dan makan berat 2–3 jam sebelum tidur.

5. Jangan menumpuk “utang tidur” di akhir pekan.

Tidur Bukan Kemalasan, Tapi Investasi Kesehatan

Mewakili Ketua Umum PDPI Arif Riadi, Prof. Allen menegaskan bahwa tidur minimal 7–8 jam bagi orang dewasa bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan biologis.

“Jangan anggap remeh mendengkur keras dan rasa kantuk berlebihan di siang hari. Itu bisa menjadi sinyal tubuh Anda sedang dalam bahaya,” ujarnya.

Momentum Hari Tidur Sedunia 2026 ini diharapkan menjadi titik balik kesadaran masyarakat Indonesia untuk tidak lagi mengabaikan kualitas tidur.

Pesan tegas PDPI:

Jika Anda atau anggota keluarga mendengkur keras disertai tercekik, henti napas, atau kantuk ekstrem di siang hari — segera konsultasikan ke dokter paru atau klinik gangguan tidur.

Karena tidur berkualitas bukan sekadar istirahat, tetapi pertaruhan nyawa dan masa depan produktivitas bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Proyek MLFF tetap berlanjut, pemerintah mulai tahap pengujian

7 Maret 2026 - 03:41 WIB

Ramadan Lebih Tenang Bersama Kia, New Sonet Tawarkan Kenyamanan Berkendara

7 Maret 2026 - 00:04 WIB

Yayasan Agung Podomoro Land Salurkan Donasi Ramadan kepada Ribuan Anak Yatim 

6 Maret 2026 - 23:05 WIB

Persiapan Lebaran Makin Praktis, Shopee Hadirkan Ragam Promo Spesial di Puncak Big Ramadan Sale 9 Maret 2026

6 Maret 2026 - 22:46 WIB

United Tractors Dukung Delegasi Indonesia pada WorldSkills Competition 2026 United Tractors Dukung Delegasi Indonesia pada WorldSkills Competition 2026

6 Maret 2026 - 22:35 WIB

Trending di Nasional