Menu ✖

Mode Gelap
Indonesia Juara! Elkan Baggott Paksa Thailand Adu Penalti, Garuda Angkat Trofi FIFA ASEAN Cup 2026 Edisi Perdana Tiba di Istana untuk Bertemu Presiden Prabowo, Presiden FIFA Puji Indonesia sebagai Tuan Rumah Luar Biasa Cek Daftar Promo 10.10 yang Wajib Kamu Serbu, Ada Makan KFC Hanya 10RB di Aplikasi ShopeePay Presiden Prabowo Pimpin Upacara Peringatan HUT ke-81 TNI di Cilangkap Ketua GERMAS PPA Riau Bersama PT Golden Satya Perkasa Bagikan 200 Nasi Kotak di Tiga Titik Jalanan Pekanbaru Bukan Sekadar Tempat Menginap, Vega Hotel Gading Serpong Hadirkan Weekend Experience: Dari Little Fire Fighter hingga BBQ Buffet All Print Indonesia 2026 Dorong Transformasi Industri Grafika, Packaging hingga Teknologi 3D 90 Persen Tiket Ludes! Ungu Siap Bikin Tennis Indoor Senayan Bergemuruh di “Waktu Yang Dinanti – Final Chapter” Viral Video Diduga Pesta Narkoba di Rutan Depok, 2–4 Warga Binaan dan 2 Petugas Diperiksa Dinobatkan sebagai Trusted & Popular Brand, United Tractors dan PAMA Raih Disway Awards 2026 Kapolda Metro Jaya Hadiri Syukuran HUT TNI di Makodam Jaya

Nasional

“Jangan Anggap Sepele!” 80% Kasus Sleep Apnea Tak Terdeteksi, PDPI Bongkar Bahaya Dengkuran di Hari Tidur Sedunia 2026

Perbesar

Detakindonesianews.com, Jakarta – Dengkuran yang selama ini dianggap tanda tidur pulas ternyata bisa menjadi “alarm kematian” yang sering diabaikan. Memperingati World Sleep Day (Hari Tidur Sedunia) pada 13 Maret 2026 bertema “Sleep Well, Live Better”, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengungkap fakta mengejutkan: sekitar 80% kasus Obstructive Sleep Apnea (OSA) di Indonesia belum terdiagnosis.

Peringatan keras ini disampaikan Ketua Pokja Sleep Apnea PDPI, Allen Widysanto, dalam webinar nasional, Selasa (3/3/2026). Menurutnya, masyarakat masih menganggap mendengkur sebagai hal biasa, padahal bisa menjadi gejala gangguan pernapasan serius saat tidur.

Prof. Allen menjelaskan, Obstructive Sleep Apnea (OSA)

OSA: Henti Napas Ratusan Kali dalam Semalam

Prof. Allen menjelaskan, Obstructive Sleep Apnea (OSA) terjadi akibat sumbatan berulang pada saluran napas atas saat tidur. Kondisi ini menyebabkan:

  • Henti napas sesaat (apnea)
  • Napas dangkal (hipopnea)
  • Penurunan kadar oksigen darah
  • Terbangun berulang kali tanpa disadari
  • “OSA dapat terjadi puluhan bahkan ratusan kali dalam satu malam. Tubuh mengalami stres berulang akibat kekurangan oksigen,” tegasnya.

Hard Value Risiko OSA:

⛔ Meningkatkan risiko stroke

⛔ Hipertensi tidak terkontrol

⛔ Penyakit jantung koroner

⛔ Gagal jantung

⛔ Kecelakaan lalu lintas akibat microsleep

⛔ Penurunan fungsi kognitif dan produktivitas kerja

Kelompok berisiko tinggi meliputi pria, penderita obesitas, lingkar leher besar, lansia, serta perempuan pascamenopause.

Ironisnya, fasilitas pemeriksaan standar emas seperti polisomnografi (sleep study) masih terbatas di layanan primer, membuat deteksi dini belum optimal.

Insomnia Ancam Generasi Produktif

Selain OSA, PDPI juga menyoroti lonjakan kasus insomnia di perkotaan. Tekanan kerja, paparan gawai, dan stres berkepanjangan menjadi pemicu utama.

Insomnia terbagi menjadi:

  • Akut (kurang dari 3 bulan, biasanya akibat stres/jet lag)
  • Kronis (lebih dari 3 bulan)

Untuk kasus kronis, terapi standar emas adalah Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia (CBT-I), dengan atau tanpa bantuan obat dalam fase awal.

 5 Jurus Sleep Hygiene dari PDPI

PDPI menegaskan bahwa kualitas tidur adalah fondasi kesehatan nasional. Berikut langkah konkret yang direkomendasikan:

1. Gunakan tempat tidur hanya untuk tidur (bukan kerja atau scroll media sosial).

2. Konsisten jam tidur dan bangun, termasuk akhir pekan.

3. Ciptakan kamar gelap, tenang, dan sejuk.

4. Hindari kafein, rokok, dan makan berat 2–3 jam sebelum tidur.

5. Jangan menumpuk “utang tidur” di akhir pekan.

Tidur Bukan Kemalasan, Tapi Investasi Kesehatan

Mewakili Ketua Umum PDPI Arif Riadi, Prof. Allen menegaskan bahwa tidur minimal 7–8 jam bagi orang dewasa bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan biologis.

“Jangan anggap remeh mendengkur keras dan rasa kantuk berlebihan di siang hari. Itu bisa menjadi sinyal tubuh Anda sedang dalam bahaya,” ujarnya.

Momentum Hari Tidur Sedunia 2026 ini diharapkan menjadi titik balik kesadaran masyarakat Indonesia untuk tidak lagi mengabaikan kualitas tidur.

Pesan tegas PDPI:

Jika Anda atau anggota keluarga mendengkur keras disertai tercekik, henti napas, atau kantuk ekstrem di siang hari — segera konsultasikan ke dokter paru atau klinik gangguan tidur.

Karena tidur berkualitas bukan sekadar istirahat, tetapi pertaruhan nyawa dan masa depan produktivitas bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dinobatkan sebagai Trusted & Popular Brand, United Tractors dan PAMA Raih Disway Awards 2026

5 Oktober 2026 - 13:11 WIB

Cek Daftar Promo 10.10 yang Wajib Kamu Serbu, Ada Makan KFC Hanya 10RB di Aplikasi ShopeePay

5 Oktober 2026 - 12:37 WIB

Enam Pasar Seni Daerah Tembus Art Jakarta 2026, MTN Market Buka Jalan Seniman Lokal ke Pasar Nasional

4 Oktober 2026 - 15:12 WIB

HUT ke-34, Sea World Ancol Hadirkan Audio Guide Pinalle dan Ajak Masyarakat Semakin Kenal serta Cintai Laut Indonesia

3 Oktober 2026 - 14:44 WIB

12 Tahun Berdiri, Mercure Jakarta Sabang Rayakan “Timeless Sabang” dan Tegaskan Komitmen Hadirkan Pengalaman Bermakna

2 Oktober 2026 - 10:48 WIB

Trending di Nasional