Menu ✖

Mode Gelap
Indonesia Juara! Elkan Baggott Paksa Thailand Adu Penalti, Garuda Angkat Trofi FIFA ASEAN Cup 2026 Edisi Perdana Tiba di Istana untuk Bertemu Presiden Prabowo, Presiden FIFA Puji Indonesia sebagai Tuan Rumah Luar Biasa Cek Daftar Promo 10.10 yang Wajib Kamu Serbu, Ada Makan KFC Hanya 10RB di Aplikasi ShopeePay Presiden Prabowo Pimpin Upacara Peringatan HUT ke-81 TNI di Cilangkap Ketua GERMAS PPA Riau Bersama PT Golden Satya Perkasa Bagikan 200 Nasi Kotak di Tiga Titik Jalanan Pekanbaru Bukan Sekadar Tempat Menginap, Vega Hotel Gading Serpong Hadirkan Weekend Experience: Dari Little Fire Fighter hingga BBQ Buffet All Print Indonesia 2026 Dorong Transformasi Industri Grafika, Packaging hingga Teknologi 3D 90 Persen Tiket Ludes! Ungu Siap Bikin Tennis Indoor Senayan Bergemuruh di “Waktu Yang Dinanti – Final Chapter” Viral Video Diduga Pesta Narkoba di Rutan Depok, 2–4 Warga Binaan dan 2 Petugas Diperiksa Dinobatkan sebagai Trusted & Popular Brand, United Tractors dan PAMA Raih Disway Awards 2026 Kapolda Metro Jaya Hadiri Syukuran HUT TNI di Makodam Jaya

Nasional

Kanker Paru Jadi Pembunuh Nomor Satu, PDPI Dorong 3 Pilar Diagnosis Berbasis Bukti

Perbesar

Detakindonesianews.com, Jakarta — Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menegaskan pentingnya penguatan diagnosis dan deteksi dini kanker paru untuk menekan angka kematian akibat penyakit tersebut di Indonesia.

Pesan itu disampaikan PDPI dalam konferensi pers virtual dalam rangka memperingati Hari Kanker Paru Sedunia 2026, Selasa (18/8/2026). Dalam forum tersebut, PDPI memaparkan tiga pilar utama penguatan diagnosis kanker paru berbasis bukti, yakni algoritma skrining berjenjang, pemanfaatan teknologi terkini, serta penguatan pemeriksaan penanda molekuler.

Urgensi penguatan diagnosis tersebut tidak terlepas dari tingginya beban kanker paru secara global maupun nasional. Berdasarkan data GLOBOCAN 2022, kanker paru menjadi salah satu kanker dengan beban kasus dan kematian tertinggi di dunia. Di Indonesia, kanker paru menempati peringkat kedua dalam insidensi kanker, dengan sekitar 38.900 kasus baru, sekaligus menjadi peringkat pertama dalam mortalitas kanker, yang menyumbang sekitar 14,1 persen dari total kematian akibat kanker.

Ketua Umum PDPI, Dr. Dr. Arif Riadi Arifin, Sp.P(K), MARS, menjelaskan, penguatan diagnosis perlu dilakukan secara sistematis agar kasus kanker paru dapat ditemukan sedini mungkin dan pasien memperoleh terapi yang sesuai dengan karakteristik penyakitnya.

“Penerapan terapi target generasi awal maupun generasi lanjut saat ini terus diupayakan perluasan cakupan penjaminannya melalui kerja sama dengan organisasi profesi, Kementerian Kesehatan, dan BPJS Kesehatan,” ujar Arif.

Tiga Pilar Penguatan Diagnosis

Pilar pertama adalah implementasi algoritma skrining berjenjang. Proses penapisan awal dilakukan melalui kuesioner Profil Risiko Paru sebagai instrumen untuk mengidentifikasi kelompok berisiko. Selanjutnya, individu dengan risiko tinggi dapat diarahkan menjalani pemeriksaan Low-Dose CT Scan (LDCT) sesuai indikasi medis.

Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan peluang menemukan kanker paru pada stadium lebih awal, ketika pilihan penanganan masih lebih luas dan peluang keberhasilan terapi dapat lebih baik.

Pilar kedua adalah pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam radiologi. Teknologi ini dapat membantu dokter dalam proses interpretasi citra radiologi, termasuk memberikan penandaan terhadap nodul paru yang mencurigakan sehingga proses identifikasi dapat dilakukan secara lebih efisien.

Sementara itu, pilar ketiga menitikberatkan pada pemeriksaan penanda molekuler. Pemeriksaan ini memiliki peran penting dalam menentukan pilihan terapi, termasuk targeted therapy dan imunoterapi lini pertama, sesuai karakteristik biologis kanker serta pedoman tatalaksana nasional.

PDPI menilai penguatan pemeriksaan molekuler perlu berjalan beriringan dengan perluasan akses terhadap terapi yang sesuai. Dengan demikian, diagnosis tidak berhenti pada penemuan penyakit, tetapi dilanjutkan dengan penentuan terapi yang semakin personal dan berbasis karakteristik kanker pasien.

Dorong Deteksi Dini dan Akses Pengobatan

Peringatan Hari Kanker Paru Sedunia 2026 mengusung tema “Together Through Lung Cancer”, yang menekankan pentingnya kebersamaan dalam menghadapi kanker paru, baik melalui pencegahan, deteksi dini, pengobatan maupun dukungan terhadap pasien dan penyintas.

Melalui momentum tersebut, PDPI mendorong masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap faktor risiko kanker paru, menerapkan gaya hidup sehat, menghindari rokok, serta tidak mengabaikan gejala maupun faktor risiko yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Di sisi lain, penguatan diagnosis juga perlu dibarengi dengan peningkatan akses terhadap layanan kesehatan dan terapi yang tepat. Sinergi antara organisasi profesi, pemerintah, fasilitas pelayanan kesehatan, serta penyelenggara jaminan kesehatan menjadi kunci agar upaya pengendalian kanker paru tidak hanya berorientasi pada deteksi, tetapi juga memastikan pasien mendapatkan penanganan yang sesuai dan berkesinambungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dinobatkan sebagai Trusted & Popular Brand, United Tractors dan PAMA Raih Disway Awards 2026

5 Oktober 2026 - 13:11 WIB

Cek Daftar Promo 10.10 yang Wajib Kamu Serbu, Ada Makan KFC Hanya 10RB di Aplikasi ShopeePay

5 Oktober 2026 - 12:37 WIB

Enam Pasar Seni Daerah Tembus Art Jakarta 2026, MTN Market Buka Jalan Seniman Lokal ke Pasar Nasional

4 Oktober 2026 - 15:12 WIB

HUT ke-34, Sea World Ancol Hadirkan Audio Guide Pinalle dan Ajak Masyarakat Semakin Kenal serta Cintai Laut Indonesia

3 Oktober 2026 - 14:44 WIB

12 Tahun Berdiri, Mercure Jakarta Sabang Rayakan “Timeless Sabang” dan Tegaskan Komitmen Hadirkan Pengalaman Bermakna

2 Oktober 2026 - 10:48 WIB

Trending di Nasional