Detakindonesianews.com, Jakarta, – PT Mineral Sumberdaya Mandiri Tbk (AKSI) tetap optimistis menghadapi tahun 2026 meskipun mencatat penurunan kinerja pada kuartal pertama. Dalam Paparan Publik yang digelar Jumat (12/6/2026), manajemen memaparkan strategi pemulihan bisnis, prospek usaha, serta target pertumbuhan yang diharapkan dapat dicapai hingga akhir tahun.
Direktur Perseroan, Ronita, menyampaikan bahwa tahun 2025 menjadi periode penting bagi pemulihan operasional perusahaan di tengah perlambatan ekonomi global, volatilitas harga komoditas, dan tekanan biaya logistik. Menurutnya, kebutuhan domestik terhadap pasokan energi, aktivitas pertambangan yang berkelanjutan, serta program hilirisasi mineral masih menjadi fondasi permintaan bagi bisnis jasa angkutan yang dijalankan Perseroan.
“Perseroan menempatkan efisiensi operasional, keandalan armada, kualitas layanan, dan penguatan hubungan pelanggan sebagai faktor utama untuk mempertahankan daya saing,” ujarnya.
Paparan publik tersebut juga memperkenalkan jajaran pengurus Perseroan yang terdiri atas Komisaris Utama Rosmaria Parlindungan, Komisaris Wisnu Wahyudin Petalolo, Komisaris Independen Marciano Herson Triherman, Direktur Utama Dodi Hermawan, serta Direktur Ronita.
AKSI merupakan perusahaan investasi yang memiliki entitas anak PT Rizki Batu Licin Transport (RBT), perusahaan jasa angkutan dan penunjang pertambangan yang saat ini mengoperasikan 136 unit armada untuk mendukung aktivitas logistik sektor pertambangan dan energi.
Sepanjang 2025, Perseroan membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp455,88 miliar. Meski masih menghadapi tantangan permintaan jasa transportasi yang belum sepenuhnya pulih, Perseroan berhasil mencatat laba bersih tahun berjalan sebesar Rp2,24 miliar. Selain itu, AKSI juga membalikkan posisi rugi komprehensif yang sebelumnya tercatat pada tahun 2024.
Namun, memasuki kuartal I 2026, kinerja Perseroan mengalami tekanan. Pendapatan tercatat sebesar Rp82,27 miliar, turun 43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp144,46 miliar. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh melemahnya volume jasa angkutan pada awal tahun, penyesuaian jadwal pengangkutan pelanggan, serta belum optimalnya utilisasi armada.
Segmen jasa transportasi yang menjadi kontributor utama pendapatan Perseroan mengalami penurunan 43,26 persen menjadi Rp79,07 miliar dari Rp139,35 miliar pada kuartal I 2025.
Seiring turunnya pendapatan, beban pokok pendapatan berhasil ditekan 38,67 persen menjadi Rp72,79 miliar dibandingkan Rp118,71 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun penurunan biaya tersebut belum mampu mengimbangi kontraksi pendapatan sehingga laba kotor Perseroan merosot 63,22 persen menjadi Rp9,47 miliar dari Rp25,75 miliar.
Kondisi tersebut berdampak pada profitabilitas perusahaan. AKSI membukukan rugi bersih sebesar Rp3,16 miliar pada kuartal I 2026, berbalik dari laba bersih Rp9,53 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
“Karena struktur biaya armada memiliki komponen tetap dan semi tetap, penurunan volume pendapatan berdampak langsung terhadap penyerapan biaya dan menekan laba komprehensif,” jelas manajemen.
Dari sisi neraca, total aset Perseroan pada akhir 2025 tercatat sebesar Rp334,8 miliar, sedangkan total liabilitas mencapai sekitar Rp163 miliar. Pada kuartal I 2026, total aset tercatat sebesar Rp330 miliar dengan ekuitas sebesar Rp168,26 miliar. Manajemen menegaskan bahwa struktur keuangan akan terus dikelola secara hati-hati melalui penguatan arus kas operasional, pengendalian modal kerja, dan peningkatan profitabilitas.
Untuk tahun 2026, AKSI menargetkan pendapatan usaha sebesar Rp479 miliar atau tumbuh 5,07 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Perseroan juga memproyeksikan laba bersih mencapai Rp11,7 miliar atau setara 2,44 persen dari pendapatan.
Manajemen menilai prospek usaha masih positif, terutama pada jasa angkutan batubara yang mendukung pasokan energi nasional serta jasa angkutan mineral seperti nikel yang didorong oleh program hilirisasi dan perkembangan industri baterai kendaraan listrik.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih perlu diantisipasi, antara lain fluktuasi harga komoditas, kenaikan biaya operasional, kondisi cuaca, serta perubahan volume pengangkutan dari pelanggan.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Perseroan menyiapkan sejumlah strategi, antara lain meningkatkan utilisasi armada, memperkuat hubungan dengan pelanggan eksisting, memperluas peluang kontrak baru dengan margin yang lebih sehat, meningkatkan efektivitas penagihan piutang, menjaga disiplin biaya, serta memperkuat pengelolaan modal kerja dan likuiditas.
Selain itu, manajemen menegaskan akan tetap selektif dalam melakukan ekspansi, menjaga efisiensi operasional, serta responsif terhadap volatilitas harga komoditas dan dinamika permintaan pasar.
“Penurunan kinerja pada kuartal pertama tidak serta-merta mencerminkan prospek sepanjang tahun. Perseroan akan terus fokus pada pemulihan volume angkutan, perbaikan margin, penguatan arus kas, dan optimalisasi armada agar target tahun 2026 dapat dicapai secara prudent,” ujar manajemen.
Menutup paparan publik, Direksi menyampaikan apresiasi kepada para pemegang saham, investor, Dewan Komisaris, dan seluruh pemangku kepentingan atas dukungan yang diberikan kepada Perseroan dalam menjalankan strategi pertumbuhan yang berkelanjutan
