Detakindonesianews.com, Jakarta – PT United Tractors Tbk (“Perseroan” atau “UT”) pada hari ini mengumumkan laporan keuangan konsolidasian sampai triwulan pertama tahun 2026.
Perseroan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp28,6 triliun atau turun sebesar 17% dari Rp34,3 triliun pada periode yang sama di tahun 2025. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan signifikan di PT Agincourt Resources karena tidak adanya penjualan emas, serta kinerja yang lebih rendah pada segmen Mesin Konstruksi dan Kontraktor Penambangan sebagai dampak penurunan alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026. Sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan pendapatan dari sektor Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi, terutama disebabkan oleh harga rata – rata batu bara yang lebih tinggi. Pendapatan bersih tersebut terutama berasal dari:
– Rp11,9 triliun dari segmen Kontraktor Penambangan, 6% lebih rendah dari periode yang sama di tahun lalu
– Rp8,0 triliun dari segmen Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi, 13% lebih tinggi dari periode yang sama di tahun lalu
– Rp7,5 triliun dari segmen Mesin Konstruksi,31% lebih rendah dari periode yang sama di tahun lalu
– Rp691,6 miliar dari segmen Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya, 76% lebih rendah dari periode yang sama di tahun lalu
Laba bersih Perseroan tidak termasuk nonrecurring charges turun 44% menjadi Rp1,8 triliun, terutama karena tidak adanya penjualan emas dari PT Agincourt Resources dan pendapatan yang lebih rendah yang sebagian besar mencerminkan dampak dari penurunan alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026.
Selama kuartal pertama tahun 2026, Perseroan mencatat non-recurring charges senilai Rp1,2 triliun, terutama terdiri dari (i) pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan, sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di tambang nikel Stargate dan (ii) provisi penurunan nilai atas investasi panas bumi PT Supreme Energy Rantau Dedap.
Per 31 Maret 2026, Perseroan mencatat utang bersih sebesar Rp5,5 triliun, dengan rasio utang bersih (net gearing ratio) sebesar 5%, dibandingkan dengan posisi kas bersih sebesar Rp7,7 triliun per 31 Desember 2025. Perubahan ini utamanya mencerminkan akuisisi perusahaan pertambangan emas dan program pembelian kembali saham.
Segmen Usaha Mesin Konstruksi
Segmen usaha Mesin Konstruksi mencatat penurunan penjualan alat berat Komatsu sebesar 20% menjadi 1.107 unit disebabkan oleh penurunan penjualan pada sektor pertambangan. Berdasarkan riset pasar internal, pangsa pasar Komatsu adalah 18%. Komatsu mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar di sektor pertambangan.
Pendapatan Perseroan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat turun 4% menjadi Rp2,7 triliun.
Total pendapatan bersih dari Mesin Konstruksi turun 31% menjadi Rp7,5 triliun, terutama disebabkan oleh penurunan permintaan dari Sektor pertambangan mengikuti penurunan alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026 yang mendorong customer pertambangan menunda pembelian alat berat baru.
Segmen Usaha Kontraktor Penambangan
Segmen usaha Kontraktor Penambangan dioperasikan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan anak usahanya PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining). PAMA dan KPP Mining (“PAMA Grup”) menyediakan jasa pertambangan untuk pemilik konsesi tambang, dengan membantu mereka dalam pekerjaan pemindahan tanah (overburden removal) dan produksi batu bara serta mineral lainnya.
Sampai dengan triwulan pertama tahun 2026, PAMA Grup mencatatkan volume pekerjaan pemindahan tanah (overburden removal) yang lebih rendah sebesar 7% menjadi 236 juta bcm dan volume produksi batu bara untuk para kliennya turun 4% menjadi 31 juta ton dengan rata-rata stripping ratio sebesar 7,6x, mengikuti penyesuaian target produksi klien sesuai dengan RKAB yang telah disetujui.
Total pendapatan bersih dari Kontraktor Penambangan turun 6% menjadi Rp11,9 triliun.
Segmen Usaha Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi
Segmen usaha Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung (“Turangga Resources”).
Di triwulan pertama tahun 2026, tambang batu bara Turangga Resources mencatatkan volume penjualan batu bara sebesar 4,0 juta ton (termasuk 0,9 juta ton batu bara metalurgi), naik 23% dari periode yang sama di tahun 2025. Total volume penjualan batu bara termasuk batu bara pihak ketiga mencapai 4,6 juta ton, 20% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di tahun lalu.
Pendapatan segmen usaha Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi meningkat sebesar 13% menjadi Rp8,0 triliun, terutama dikarenakan harga rata – rata batu bara yang lebih tinggi.
Segmen Usaha Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya
Segmen usaha Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 76% menjadi Rp691.6 miliar, terutama disebabkan oleh tidak adanya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe.
Pertambangan Emas
Usaha pertambangan emas Perseroan Duoperasikan oleh PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya, yang mencatatkan total penjualan setara emas sebesar 4 ribu ons sampai dengan triwulan pertama tahun 2026, 93% lebih rendah dari periode yang sama di tahun lalu.
Pada bulan Maret 2026, Tambang Emas Martabe telah menerima persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk melanjutkan operasional.
Bisnis Nikel
PT Stargate Pasific Resources mencatatkan penjualan bijih nikel sebesar 597 ribu wet metric ton (wmt) sampai dengan triwulan pertama tahun 2026, yang terdiri dari 171 ribu wmt saprolit dan 426 ribu wmt limonit.
Nickel Industries Limited (“NIC”) dengan kepemilikan sebesar 20,14% merupakan perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi dengan aset utama yang berlokasi di Indonesia. UT mengakui kontribusi dari NIC untuk periode 3 bulan ke belakang berdasarkan hasil dari NIC pada kuartal keempat 2025. Kinerja bisnis ini terutama dipengaruhi oleh volume penjualan bijih nikel yang lebih rendah dan peningkatan biaya keuangan. Operasional RKEF NIC melaporkan penjualan nickel metal sebesar 31.429 ton pada triwulan keempat 2025 dan 125.341 ton sepanjang tahun 2025. Pada tanggal 18 Februari 2026, NIC mengumumkan telah menerima kuota RKAB untuk penjualan bijih nikel tahun 2026 meningkat dari 9,0 juta wmt menjadi 14,3 juta wmt.
Aksi Korporasi
Pada tanggal 11 Februari 2026, UT, melalui anak usahanya PT Danusa Tambang Nusantara dan PT Energia Prima Nusantara, telah menyelesaikan transaksi untuk mengakuisisi 100% kepemilikan saham PT Arafura Surya Alam, sebuah perusahaan pertambangan emas yang berlokasi di Sulawesi Utara.
Pada tanggal 31 Maret 2026, UT menyelesaikan program pembelian kembali saham tahap kedua senilai Rp2 triliun yang dimulai pada tanggal 22 Januari 2026 dengan 36,4 juta lembar saham yang dibeli kembali. Selanjutnya, UT mengumumkan tahap ketiga pembelian kembali saham dengan nilai maksimal sebesar Rp2 triliun dari tanggal 1April sampai 30 Juni 2026. Kedua program ini dijalankan dengan mengikuti peraturan Otoritas Jasa Keuangan terkait pembelian kembali saham dalam situasi pasar berfluktuasi.
Program ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek Perseroan dan kemampuannya untuk menghasilkan arus kas yang berkelanjutan, juga bertujuan untuk mendukung Pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar modal.
Aktivitas Grup
Grup UT meraih predikat Hijau dan Biru dalam Program PROPER untuk periode 2024 – 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, mencerminkan komitmen Perseroan dalam pengelolaan praktik bisnis berkelanjutan dan lingkungan. UT menunjukkan konsistensinya dengan meraih predikat Hijau bersama dengan anak usahanya, PT Asmin Bara Bronang, and PT Suprabari Mapanindo Mineral. Sementara itu, PT Telen Orbit Prima, PT Supreme Energy Rantau Dedap, PT Energia Prima Nusantara, dan PT Stargate Pasific Resources meraih predikat Biru atas kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining), masuk dalam daftar Change The World 2025 yang diumumkan pada Fortune Summit 2026. Pengakuan ini meresmikan komitmen Perseroan terhadap praktik bisnis berkelanjutan yang secara konsisten mengintegrasikan prinsip-prinsip ESG ke dalam strategi dan operasional Perseroan.
