Detakindonesianews.com, Jakarta, 16 April 2026 – Di tengah fluktuasi harga bahan bakar, para mitra pengemudi ride-hailing di Indonesia semakin mempertimbangkan model sewa kendaraan listrik yang menawarkan biaya operasional lebih rendah serta pendapatan yang lebih stabil dan dapat diprediksi.
Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, pengemudi ride-hailing umumnya menghabiskan waktu berjam-jam di jalan dengan kondisi lalu lintas yang padat. Dalam kondisi tersebut, pendapatan harian sangat dipengaruhi oleh margin yang relatif kecil. Ketika harga bahan bakar berfluktuasi, ketidakpastian terhadap pendapatan pun semakin meningkat.
Seorang pengemudi di Jakarta yang meminta namanya tidak dipublikasikan mengungkapkan bahwa setelah bertahun-tahun bekerja, biaya bahan bakar selalu menjadi perhatian utama. Dalam beberapa situasi, biaya pengisian bahan bakar di awal perjalanan dapat memangkas pendapatan secara signifikan di akhir hari.
Keinginan untuk beralih ke kendaraan listrik sebenarnya sudah muncul sejak lama, terutama setelah mendengar bahwa biaya pengisian daya jauh lebih hemat. Namun, tingginya biaya awal untuk membeli kendaraan listrik masih menjadi kendala bagi banyak pengemudi untuk beralih.
Pada suatu hari, ketika sedang menunggu pesanan berikutnya, ia menemukan sebuah unggahan di media sosial yang menjelaskan model sewa baru yang dirancang khusus untuk mitra pengemudi ride-hailing. Konsepnya sederhana: alih-alih membeli kendaraan, pengemudi dapat menyewa mobil listrik untuk kebutuhan operasional dengan tarif mulai dari Rp312.500 per hari di Indonesia.
Yang menjadi daya tarik utama adalah fleksibilitasnya. Pengemudi dapat langsung mulai bekerja tanpa perlu mengeluarkan biaya awal yang besar, sekaligus lebih mudah mengatur pengeluaran harian.
Model ini merupakan bagian dari inisiatif VinFast yang terus memperluas kehadirannya di Indonesia. Perusahaan ini menghadirkan berbagai lini kendaraan listrik berbasis baterai sekaligus berinvestasi dalam pengembangan infrastruktur pengisian daya di berbagai kota.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia juga terus mendorong adopsi kendaraan listrik melalui berbagai kebijakan dan insentif, sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil serta mendukung transportasi yang lebih berkelanjutan.
Pengemudi lain di wilayah Jabodetabek juga menilai bahwa salah satu daya tarik utama dari model ini adalah efisiensi biaya pengisian daya. Melalui program insentif VinFast saat ini, biaya pengisian dapat ditekan secara signifikan, bahkan dalam beberapa kasus dapat mendekati nol di stasiun tertentu.
Bagi pengemudi yang menempuh jarak 200 hingga 300 kilometer per hari, yang umum terjadi di kota besar seperti Jakarta dengan tingkat kemacetan tinggi, total jarak tempuh bulanan dapat mencapai 6.000 hingga 9.000 kilometer.
Dengan kendaraan berbahan bakar bensin, biaya bahan bakar bisa mencapai jutaan rupiah per bulan, tergantung pada kondisi mengemudinya.
Sebaliknya, kendaraan listrik seperti Herio Green yang dikembangkan dari platform VF 5 mampu menempuh jarak lebih dari 300 kilometer dalam sekali pengisian daya, cukup untuk mendukung operasional harian di area perkotaan. Pengisian cepat dari 10% hingga 70% hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit, sehingga dapat dilakukan saat waktu istirahat tanpa mengganggu produktivitas pengemudi.
Dari sisi finansial, perbedaan biaya operasional antara kendaraan bensin dan listrik cukup signifikan. Dalam jangka panjang, selisih biaya ini dapat menghasilkan penghematan bulanan yang berarti, bahkan berpotensi menutupi sebagian besar kebutuhan rumah tangga. Jika diakumulasikan dalam setahun, nilainya menjadi semakin besar.
Bagi pengemudi yang masih mempertimbangkan, keputusan untuk beralih bukan hanya soal perubahan jangka pendek, tetapi juga keberlanjutan dalam jangka panjang. Seiring waktu, perbandingan biaya antara kendaraan konvensional dan listrik menjadi semakin nyata.
Meski belum semua pengemudi siap untuk segera beralih, kombinasi biaya awal yang lebih ringan, pengeluaran harian yang lebih terprediksi, serta dukungan infrastruktur yang terus berkembang secara bertahap mulai mengubah cara pandang para pengemudi ride-hailing terhadap penghasilan dan masa depan mereka.
