Menu

Mode Gelap
ISOPLUS Run Series 2026 Kembali Digelar di Jakarta dan Surabaya, Ajak 17.000 Pelari Indonesia Unlock Your Greatness Ketua Yayasan MADINAH Melki Sandria Jalin Kerja Sama dengan Dubes Palestina Abdallfattah A.K. Alsattari untuk Bantuan Gaza GERMAS PPA Riau Dukung Program Green Policing Polda Riau, Dorong Perlindungan Perempuan dan Anak Berbasis Lingkungan myBCA International Java Jazz Festival 2026: 21 Tahun Java Festival Production Menghubungkan Generasi, Membuka Lembar Perayaan Berikutnya PHI Group Gebrak Pasar Perkantoran dengan Luncurkan CoreSpace dan UrbanCore Building PERKOSMI Dukung Inovasi dan Masa Depan Industri Kecantikan Berkelanjutan di Indonesia United Tractors Perkuat Peran Perempuan melalui Edukasi dan Kesiapsiagaan Bencana Ciputra Hospital Citra Raya Tangerang Luncurkan MRI Modern, Dilengkapi Sajian Istimewa dari Hotel Ciputra Jakarta  Hansaplast Perkuat Solusi Perawatan Luka Anak lewat Peluncuran Aqua Protect Kids, Plester Anak 100% Tahan Air dengan Desain Ceria Nellava Perkenalkan Bullion Live Price Pertama di Indonesia, Dorong Revolusi Transparansi Investasi Emas

Nasional

“Jangan Anggap Sepele!” 80% Kasus Sleep Apnea Tak Terdeteksi, PDPI Bongkar Bahaya Dengkuran di Hari Tidur Sedunia 2026

Perbesar

Detakindonesianews.com, Jakarta – Dengkuran yang selama ini dianggap tanda tidur pulas ternyata bisa menjadi “alarm kematian” yang sering diabaikan. Memperingati World Sleep Day (Hari Tidur Sedunia) pada 13 Maret 2026 bertema “Sleep Well, Live Better”, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengungkap fakta mengejutkan: sekitar 80% kasus Obstructive Sleep Apnea (OSA) di Indonesia belum terdiagnosis.

Peringatan keras ini disampaikan Ketua Pokja Sleep Apnea PDPI, Allen Widysanto, dalam webinar nasional, Selasa (3/3/2026). Menurutnya, masyarakat masih menganggap mendengkur sebagai hal biasa, padahal bisa menjadi gejala gangguan pernapasan serius saat tidur.

Prof. Allen menjelaskan, Obstructive Sleep Apnea (OSA)

OSA: Henti Napas Ratusan Kali dalam Semalam

Prof. Allen menjelaskan, Obstructive Sleep Apnea (OSA) terjadi akibat sumbatan berulang pada saluran napas atas saat tidur. Kondisi ini menyebabkan:

  • Henti napas sesaat (apnea)
  • Napas dangkal (hipopnea)
  • Penurunan kadar oksigen darah
  • Terbangun berulang kali tanpa disadari
  • “OSA dapat terjadi puluhan bahkan ratusan kali dalam satu malam. Tubuh mengalami stres berulang akibat kekurangan oksigen,” tegasnya.

Hard Value Risiko OSA:

⛔ Meningkatkan risiko stroke

⛔ Hipertensi tidak terkontrol

⛔ Penyakit jantung koroner

⛔ Gagal jantung

⛔ Kecelakaan lalu lintas akibat microsleep

⛔ Penurunan fungsi kognitif dan produktivitas kerja

Kelompok berisiko tinggi meliputi pria, penderita obesitas, lingkar leher besar, lansia, serta perempuan pascamenopause.

Ironisnya, fasilitas pemeriksaan standar emas seperti polisomnografi (sleep study) masih terbatas di layanan primer, membuat deteksi dini belum optimal.

Insomnia Ancam Generasi Produktif

Selain OSA, PDPI juga menyoroti lonjakan kasus insomnia di perkotaan. Tekanan kerja, paparan gawai, dan stres berkepanjangan menjadi pemicu utama.

Insomnia terbagi menjadi:

  • Akut (kurang dari 3 bulan, biasanya akibat stres/jet lag)
  • Kronis (lebih dari 3 bulan)

Untuk kasus kronis, terapi standar emas adalah Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia (CBT-I), dengan atau tanpa bantuan obat dalam fase awal.

 5 Jurus Sleep Hygiene dari PDPI

PDPI menegaskan bahwa kualitas tidur adalah fondasi kesehatan nasional. Berikut langkah konkret yang direkomendasikan:

1. Gunakan tempat tidur hanya untuk tidur (bukan kerja atau scroll media sosial).

2. Konsisten jam tidur dan bangun, termasuk akhir pekan.

3. Ciptakan kamar gelap, tenang, dan sejuk.

4. Hindari kafein, rokok, dan makan berat 2–3 jam sebelum tidur.

5. Jangan menumpuk “utang tidur” di akhir pekan.

Tidur Bukan Kemalasan, Tapi Investasi Kesehatan

Mewakili Ketua Umum PDPI Arif Riadi, Prof. Allen menegaskan bahwa tidur minimal 7–8 jam bagi orang dewasa bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan biologis.

“Jangan anggap remeh mendengkur keras dan rasa kantuk berlebihan di siang hari. Itu bisa menjadi sinyal tubuh Anda sedang dalam bahaya,” ujarnya.

Momentum Hari Tidur Sedunia 2026 ini diharapkan menjadi titik balik kesadaran masyarakat Indonesia untuk tidak lagi mengabaikan kualitas tidur.

Pesan tegas PDPI:

Jika Anda atau anggota keluarga mendengkur keras disertai tercekik, henti napas, atau kantuk ekstrem di siang hari — segera konsultasikan ke dokter paru atau klinik gangguan tidur.

Karena tidur berkualitas bukan sekadar istirahat, tetapi pertaruhan nyawa dan masa depan produktivitas bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

PHI Group Gebrak Pasar Perkantoran dengan Luncurkan CoreSpace dan UrbanCore Building

6 Mei 2026 - 15:28 WIB

PERKOSMI Dukung Inovasi dan Masa Depan Industri Kecantikan Berkelanjutan di Indonesia

6 Mei 2026 - 14:46 WIB

United Tractors Perkuat Peran Perempuan melalui Edukasi dan Kesiapsiagaan Bencana

6 Mei 2026 - 07:35 WIB

Ciputra Hospital Citra Raya Tangerang Luncurkan MRI Modern, Dilengkapi Sajian Istimewa dari Hotel Ciputra Jakarta 

6 Mei 2026 - 03:05 WIB

Hansaplast Perkuat Solusi Perawatan Luka Anak lewat Peluncuran Aqua Protect Kids, Plester Anak 100% Tahan Air dengan Desain Ceria

5 Mei 2026 - 13:52 WIB

Trending di Nasional