Menu

Mode Gelap
Pecah dan Penuh Kejutan! Mendadak Duel Masak Bareng Aldi Taher dan Chef Hideki di Rumah Indofood Jakarta Fair Kemayoran 2026 Next Gen Choice, Buku Full English Erlangga Selaras Kurikulum Merdeka Nurul Quran Centre Singapura Konsisten Tebar Dakwah dan Amanah Qurban Internasional, Masuki Tahun Ke-6 Pengabdian Umat GIIAS 2026 Siap Digelar Hadirkan Merek Baru dengan Jajaran Merek Paling Lengkap dan Komprehensif  RAZIA MALAM BONGKAR REALITA THM RP: PEREMPUAN JADI PIHAK PALING RENTAN, GERMAS PPA Riau BUKA SUARA Mengusung Tema “2 Dekade: Next Level Legacy”, PWN 2026 Menjadi Momentum Estafet Kepemimpinan TDA dan Penguatan Ekosistem Kewirausahaan Indonesia  TDI Laporkan Dugaan Penipuan dan Penggelapan Saham Rp381,5 Miliar ke Bareskrim Polri Viu dan iQIYI International Luncurkan Paket Langganan Streaming di Asia Tenggara Bareskrim POLRI Berhasil Menangkap Buronan Narkoba Frans Anthony di Malaysia Iskandar Halim Munthe Laporkan Dugaan Sengketa 5.900 Hektare Lahan di Lahat ke Satgas Antimafia Tanah JAKALCER FEST 2026 Hadir di Pasar Seni Ancol – Rumah Kreativitas Jakarta Menuju 5 Abad Kota Jakarta

Nasional

“Jangan Anggap Sepele!” 80% Kasus Sleep Apnea Tak Terdeteksi, PDPI Bongkar Bahaya Dengkuran di Hari Tidur Sedunia 2026

Perbesar

Detakindonesianews.com, Jakarta – Dengkuran yang selama ini dianggap tanda tidur pulas ternyata bisa menjadi “alarm kematian” yang sering diabaikan. Memperingati World Sleep Day (Hari Tidur Sedunia) pada 13 Maret 2026 bertema “Sleep Well, Live Better”, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengungkap fakta mengejutkan: sekitar 80% kasus Obstructive Sleep Apnea (OSA) di Indonesia belum terdiagnosis.

Peringatan keras ini disampaikan Ketua Pokja Sleep Apnea PDPI, Allen Widysanto, dalam webinar nasional, Selasa (3/3/2026). Menurutnya, masyarakat masih menganggap mendengkur sebagai hal biasa, padahal bisa menjadi gejala gangguan pernapasan serius saat tidur.

Prof. Allen menjelaskan, Obstructive Sleep Apnea (OSA)

OSA: Henti Napas Ratusan Kali dalam Semalam

Prof. Allen menjelaskan, Obstructive Sleep Apnea (OSA) terjadi akibat sumbatan berulang pada saluran napas atas saat tidur. Kondisi ini menyebabkan:

  • Henti napas sesaat (apnea)
  • Napas dangkal (hipopnea)
  • Penurunan kadar oksigen darah
  • Terbangun berulang kali tanpa disadari
  • “OSA dapat terjadi puluhan bahkan ratusan kali dalam satu malam. Tubuh mengalami stres berulang akibat kekurangan oksigen,” tegasnya.

Hard Value Risiko OSA:

⛔ Meningkatkan risiko stroke

⛔ Hipertensi tidak terkontrol

⛔ Penyakit jantung koroner

⛔ Gagal jantung

⛔ Kecelakaan lalu lintas akibat microsleep

⛔ Penurunan fungsi kognitif dan produktivitas kerja

Kelompok berisiko tinggi meliputi pria, penderita obesitas, lingkar leher besar, lansia, serta perempuan pascamenopause.

Ironisnya, fasilitas pemeriksaan standar emas seperti polisomnografi (sleep study) masih terbatas di layanan primer, membuat deteksi dini belum optimal.

Insomnia Ancam Generasi Produktif

Selain OSA, PDPI juga menyoroti lonjakan kasus insomnia di perkotaan. Tekanan kerja, paparan gawai, dan stres berkepanjangan menjadi pemicu utama.

Insomnia terbagi menjadi:

  • Akut (kurang dari 3 bulan, biasanya akibat stres/jet lag)
  • Kronis (lebih dari 3 bulan)

Untuk kasus kronis, terapi standar emas adalah Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia (CBT-I), dengan atau tanpa bantuan obat dalam fase awal.

 5 Jurus Sleep Hygiene dari PDPI

PDPI menegaskan bahwa kualitas tidur adalah fondasi kesehatan nasional. Berikut langkah konkret yang direkomendasikan:

1. Gunakan tempat tidur hanya untuk tidur (bukan kerja atau scroll media sosial).

2. Konsisten jam tidur dan bangun, termasuk akhir pekan.

3. Ciptakan kamar gelap, tenang, dan sejuk.

4. Hindari kafein, rokok, dan makan berat 2–3 jam sebelum tidur.

5. Jangan menumpuk “utang tidur” di akhir pekan.

Tidur Bukan Kemalasan, Tapi Investasi Kesehatan

Mewakili Ketua Umum PDPI Arif Riadi, Prof. Allen menegaskan bahwa tidur minimal 7–8 jam bagi orang dewasa bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan biologis.

“Jangan anggap remeh mendengkur keras dan rasa kantuk berlebihan di siang hari. Itu bisa menjadi sinyal tubuh Anda sedang dalam bahaya,” ujarnya.

Momentum Hari Tidur Sedunia 2026 ini diharapkan menjadi titik balik kesadaran masyarakat Indonesia untuk tidak lagi mengabaikan kualitas tidur.

Pesan tegas PDPI:

Jika Anda atau anggota keluarga mendengkur keras disertai tercekik, henti napas, atau kantuk ekstrem di siang hari — segera konsultasikan ke dokter paru atau klinik gangguan tidur.

Karena tidur berkualitas bukan sekadar istirahat, tetapi pertaruhan nyawa dan masa depan produktivitas bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mengusung Tema “2 Dekade: Next Level Legacy”, PWN 2026 Menjadi Momentum Estafet Kepemimpinan TDA dan Penguatan Ekosistem Kewirausahaan Indonesia 

20 Juni 2026 - 07:44 WIB

JAKALCER FEST 2026 Hadir di Pasar Seni Ancol – Rumah Kreativitas Jakarta Menuju 5 Abad Kota Jakarta

19 Juni 2026 - 06:58 WIB

ARTA Bidik Pendapatan Rp100 Miliar pada 2026, Pemegang Saham Setujui Penguatan Struktur Permodalan

19 Juni 2026 - 04:02 WIB

Ducati Indonesia Luncurkan DesertX V2 dan Resmikan Showroom Baru di Pondok Indah

19 Juni 2026 - 03:54 WIB

Halal Indonesia International Industry Expo 2026 Melalui Halal Indo 2026, Pemerintah Dorong Akselerasi Industri Halal Nasional Berdaya Saing Global

19 Juni 2026 - 03:16 WIB

Trending di Nasional