Pekanbaru, Detak Indonesia News — Fenomena yang mencoreng dunia pendidikan kembali terjadi di Kota Pekanbaru. Sejumlah pelajar Sekolah Menengah Atas dan sekolah Menengah Kejuruan (SMA/SMK) kedapatan asyik bermain biliard dan merokok di jam sekolah di salah satu tempat hiburan Boy Bistro & Billiard di Jalan Kuantan Raya, Senin (27/10/2025).
Dalam pantauan langsung Wakil Ketua Umum Gerakan Masyarakat Peduli Perlindungan Anak (Germas PPA) Rika Parlina, S.H. bersama tim media Detakindonesianews.com dan tulisfakta.com, tampak beberapa pelajar berseragam bebas tengah bermain biliar dengan santainya di ruangan yang dipenuhi lampu neon biru. Beberapa di antaranya juga terlihat merokok tanpa menunjukkan rasa bersalah, padahal kegiatan berlangsung di waktu belajar sekolah.
Rika Parlina yang turun langsung ke lapangan tak bisa menyembunyikan kemarahannya. Ia menilai perilaku tersebut sangat memprihatinkan dan menjadi bukti lemahnya pengawasan dari pihak sekolah serta orang tua.
“Kami benar-benar kecewa melihat langsung anak-anak sekolah yang seharusnya belajar, justru berada di tempat hiburan sambil merokok. Ini bukan hanya pelanggaran disiplin, tapi juga tanda krisis moral yang harus segera ditangani,” tegas Rika dengan nada geram di lokasi kejadian.
Rika juga mendesak pihak sekolah dan Dinas Pendidikan untuk segera melakukan pembinaan terhadap para siswa yang kedapatan membolos di tempat hiburan, serta meminta Satpol PP menertibkan tempat-tempat yang menerima pengunjung di bawah umur saat jam belajar.
“Kami meminta dinas terkait tidak tinggal diam. Harus ada sanksi tegas bagi pihak sekolah, dan tempat hiburan seperti ini juga perlu diawasi ketat. Jangan sampai tempat seperti ini menjadi lokasi pelarian anak sekolah,” tambahnya.
Tim DetakIndonesiaNews.com dan Tulisfakta.com yang ikut dalam peninjauan tersebut turut mendokumentasikan kondisi di dalam arena biliar, di mana para pelajar terlihat bebas berinteraksi dan bermain tanpa adanya teguran dari pihak pengelola tempat.
Kasus ini diharapkan menjadi perhatian serius bagi semua pihak sekolah, orang tua, dan pemerintah daerah agar generasi muda tidak kehilangan arah dan terjerumus pada pergaulan bebas yang merusak masa depan.
