Detakindonesianews.com, Jakarta— Pergeseran perilaku penonton ke perangkat digital mendorong industri perfilman Indonesia mencari format baru yang lebih adaptif. Salah satu yang dinilai memiliki peluang besar adalah vertical drama atau microdrama, format tayangan yang dirancang khusus untuk konsumsi melalui layar smartphone.
Production Consultant TVD Asia, Danny Ambarita, mendorong komunitas perfilman Indonesia membuka ruang dialog dan kolaborasi untuk mengembangkan vertical drama sebagai alternatif baru dalam industri konten digital.
Hal tersebut disampaikan Danny dalam Workshop Vertical Drama yang menjadi bagian dari rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 di PFN Heritage, Jakarta Timur. Kegiatan tersebut mempertemukan pelaku industri kreatif dan komunitas perfilman untuk membahas perkembangan produksi serta distribusi konten di era digital.
Menurut Danny, perkembangan industri konten saat ini tidak lagi hanya bertumpu pada produksi live action konvensional. Perkembangan teknologi juga membuka peluang hadirnya format hybrid yang memadukan video dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Yang kami ingin lakukan adalah membuka dialog dengan komunitas, mengeksplorasi tantangan baru, termasuk produksi vertical drama,” ujar Danny.
Ia mengatakan perubahan perilaku audiens menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan vertical drama. Waktu masyarakat untuk menikmati hiburan semakin terbatas, sementara sebagian besar perhatian mereka telah bergeser ke media sosial dan perangkat mobile.
Format cerita berdurasi pendek dengan penyajian yang langsung pada inti cerita dinilai lebih sesuai dengan pola konsumsi tersebut.
TVD Asia juga menggandeng StoryBox sebagai platform distribusi konten. Melalui model tersebut, penonton memiliki keleluasaan memilih tayangan berdasarkan minat dan waktu yang tersedia.
Danny menilai perubahan perilaku audiens turut berdampak terhadap industri televisi, termasuk pergeseran belanja iklan dari media konvensional ke platform digital. Menurutnya, kanal digital memberikan peluang bagi brand untuk memperoleh ukuran konversi yang lebih terukur dibandingkan sekadar membangun awareness melalui iklan televisi.
“Pasar Indonesia menjadi target awal sebelum kemudian melakukan scaling ke luar negeri. Banyak masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri tetap ingin menikmati konten dengan bahasa dan nuansa Indonesia,” katanya.
Potensi tersebut, lanjut Danny, terbuka di sejumlah negara dengan populasi diaspora Indonesia, antara lain Malaysia, Australia, kawasan Timur Tengah hingga Amerika Serikat.
Ia menegaskan vertical drama bukan ditujukan untuk menggantikan televisi. Format tersebut justru menjadi alternatif hiburan yang mengikuti perubahan kebutuhan dan preferensi penonton di era digital.
Industri Film Dituntut Adaptif
Head of IFCA (Indonesia Film Content Academy) PFN, Suranta Brahmana, mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri film dan konten karena memiliki jumlah penduduk hampir 280 juta jiwa.
Namun, menurutnya, industri perfilman masih menghadapi persoalan keterbatasan layar bioskop yang saat ini berada di kisaran 2.500 layar.
Suranta menilai pemerintah dan pelaku industri perlu memperkuat kolaborasi untuk meningkatkan jumlah layar sekaligus menyesuaikan produksi dengan pola konsumsi masyarakat.
Distribusi film, kata dia, kini tidak lagi hanya mengandalkan bioskop. Smartphone, YouTube, dan berbagai platform digital telah menjadi kanal baru yang semakin penting bagi industri konten.
“Pengalaman para sutradara, produser, dan kru perlu terus dibagikan sebagai pembelajaran untuk meningkatkan kualitas produksi,” ujarnya.
Menurut Suranta, peningkatan kualitas produksi menjadi kunci agar film Indonesia tidak hanya mampu bersaing di pasar domestik, tetapi juga memiliki daya saing di pasar global.
Ia juga melihat peluang distribusi konten di luar kanal konvensional, seperti transportasi umum, kereta api, hingga pesawat. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa ruang distribusi konten semakin luas sekaligus membuka peluang bisnis baru bagi industri kreatif.
StoryBox Buka Peluang bagi Kreator Muda
Produser TVD Asia, Ade Yemy Irawan atau Ojim, mengatakan pengembangan StoryBox tidak hanya diarahkan untuk konten drama. Platform tersebut juga membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam produksi konten digital.
Menurut Ojim, StoryBox telah menggandeng sejumlah pihak, salah satunya Sunny Day, yang memproduksi konten secara mandiri untuk ditayangkan melalui platform tersebut.
Ke depan, StoryBox menargetkan pengembangan berbagai jenis konten vertikal, mulai dari reality show hingga serial horor yang dirancang khusus untuk format smartphone.
Untuk pola kerja sama dengan kreator, Ojim mengatakan mekanismenya masih akan dibahas bersama manajemen. Skema yang memungkinkan antara lain pembelian konten secara langsung maupun sistem bagi hasil berdasarkan performa dan perolehan koin.
Di sisi lain, perkembangan teknologi AI juga dinilai dapat menekan hambatan biaya produksi, khususnya untuk adegan yang membutuhkan anggaran besar.
AI, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk membantu menciptakan adegan kompleks seperti kecelakaan atau kendaraan yang jatuh ke jurang tanpa harus mengeluarkan biaya produksi sebesar pembuatan adegan tersebut secara konvensional.
Menurut Ojim, perkembangan tersebut dapat memberikan kesempatan lebih besar bagi kreator baru untuk masuk ke industri dengan biaya produksi yang lebih efisien.
Meski pasar microdrama saat ini menghadapi tantangan akibat kondisi industri yang cenderung menurun, Ojim menilai peluangnya masih terbuka.
“Pasar dan penikmat konten tersebut tetap tersedia sehingga pelaku industri perlu terus melakukan eksplorasi dan inovasi,” katanya.
Ia berharap StoryBox dan industri konten vertikal dapat melahirkan lebih banyak generasi baru yang tertarik terjun ke dunia produksi digital.
“Format vertikal masih memiliki ruang besar untuk dikembangkan, tidak hanya terbatas pada microdrama, tetapi juga berbagai bentuk hiburan lainnya,” ujar Ojim.
Workshop Jadi Ruang Sineas Pelajari Tren Drama Layar HP
Ketua Panitia Kreatif Merdeka Carnival 2026, Herty Purba, mengatakan pihaknya mendukung penyelenggaraan Workshop Vertical Drama karena format tersebut tengah berkembang dan banyak dikenal masyarakat melalui tayangan drama China yang dikonsumsi melalui smartphone.
Menurut Herty, kehadiran workshop tersebut menjadi salah satu bentuk upaya membuka saluran kreativitas baru bagi sineas film di tengah percepatan digitalisasi industri hiburan.
“Workshop Vertical Drama kerja sama dengan StoryBox dan TVD ini juga menambah variasi acara selain Sepekan Diskusi Film dengan berbagai tema dan narasumber sineas film yang menarik seperti film anak, film inklusi, film animasi dan digital AI, bahkan film horor yang lagi tren di Indonesia sekarang,” ujar Herty.
Sementara itu, Ketua Diskusi Film, Liza Maria, mengatakan workshop tersebut memberikan wawasan praktis kepada sineas mengenai proses pembuatan vertical drama atau microdrama untuk kanal digital berbasis smartphone.
Menurutnya, referensi popularitas drama China menjadi salah satu gambaran bahwa format vertikal memiliki pasar yang kuat apabila dikemas dengan cerita dan produksi yang tepat.
“Dengan referensi drama China yang sangat populer dan viral, para sineas bisa langsung memproduksi film vertikal atau microdrama setelah workshop dua hari dengan StoryBox dan TVD, serta membuka peluang kerja sama dengan sineas film untuk mengirimkan karya vertical drama mereka ke StoryBox dan TVD,” kata Liza.
Perkembangan vertical drama menunjukkan bahwa transformasi industri perfilman tidak hanya terjadi pada teknologi produksi, tetapi juga pada cara masyarakat menemukan, menonton, dan mengonsumsi cerita.
Dengan dukungan teknologi, platform distribusi digital, serta keterlibatan komunitas sineas, format layar vertikal berpotensi menjadi salah satu ruang baru bagi kreator Indonesia untuk memproduksi sekaligus mendistribusikan karya ke pasar domestik dan global.
