Detakindonesianews.com, Jakarta- Kegiatan sosial Ramadan digelar Persatuan Wartawan Islam (PEWARIS) dengan membagikan ratusan paket takjil kepada masyarakat di depan Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (27 Februari 2026).
Seluruh paket yang disiapkan panitia ludes dalam waktu singkat, mencerminkan tingginya antusiasme warga dan pengguna jalan menjelang waktu berbuka puasa.

Kegiatan ini dihadiri Dewan Penasehat Yazid Maulana dan Siti Nurjanah. Dari jajaran pengurus harian turut hadir Ketua Umum Lucky Indrawan, Sekretaris Jenderal Alam Massiri, Bendahara Umum Indah Hamzah, serta Wakil Sekretaris Dicka.
Ketua Umum Lucky Indrawan menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan perwujudan nilai yang diyakini insan pers.

Pewaris Berbagi Takjil di Sekitar Gedung Juang 45 Jakarta
“Wartawan bukan hanya mencari dan menyampaikan berita, tetapi juga harus hadir di tengah masyarakat, merasakan denyut kehidupan mereka, serta berbagi kebahagiaan, terutama di bulan suci Ramadan,” ujarnya.
Dewan Penasehat Yazid Maulana menambahkan bahwa puasa mengajarkan dimensi spiritual sekaligus sosial yang tidak terpisahkan.
“Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan empati. Ketika kita merasakan lapar, kita diingatkan bahwa di luar sana ada saudara-saudara kita yang mungkin merasakannya bukan karena ibadah, tetapi karena keadaan. Di situlah berbagi menjadi makna yang sesungguhnya,” katanya.
Ramadan pada hakikatnya adalah sekolah pengendalian diri. Ia melatih kesabaran, menata ulang prioritas, serta mengikis ego yang sering kali tumbuh tanpa disadari.
Dalam konteks sosial, puasa menggeser fokus dari diri sendiri menuju kepedulian kolektif.
Takjil yang dibagikan mungkin sederhana, namun ia membawa pesan yang lebih dalam: bahwa kebersamaan dan solidaritas adalah fondasi kehidupan bermasyarakat.
Bagi kalangan wartawan, nilai puasa dan berbagi memiliki resonansi tersendiri.
Profesi ini akrab dengan fakta, data, dan peristiwa, tetapi di balik itu terdapat tanggung jawab kemanusiaan.
Melalui aksi berbagi takjil, insan pers tidak hanya melaporkan realitas sosial, melainkan turut menjadi bagian dari upaya memperkuat ikatan sosial tersebut.
Di tengah dinamika kota yang bergerak cepat, kegiatan ini menghadirkan jeda sejenak—sebuah ruang refleksi bahwa kerja jurnalistik dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan.
Ramadan pun menjadi momentum untuk menegaskan bahwa keberadaan wartawan bukan hanya sebagai penyampai kabar, tetapi juga sebagai penjaga nurani publik dan penggerak solidaritas di tengah masyarakat.
( Humas PP PEWARIS)

















