Detakindonesianews.com, Jakarta, 24 September 2026 – PT Graha Usaha Teknik (PT GUT) memperkuat kiprahnya di sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan dipercaya mengerjakan tiga proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) secara simultan, yakni Geothermal Salak 7, Patuha 2, dan Dieng 2.
Kapabilitas tersebut menjadi salah satu portofolio utama yang ditampilkan PT GUT pada hari terakhir Electricity Connect 2026 (Enlit Asia) di ICE BSD City, Tangerang. Keikutsertaan hingga penutupan ajang ketenagalistrikan tersebut menjadi momentum bagi PT GUT untuk memperkenalkan kemampuan perusahaan dalam mendukung pembangunan infrastruktur energi bersih sekaligus memperluas peluang kemitraan strategis di sektor kelistrikan nasional.
Pengembangan lini bisnis Engineering, Procurement, Construction (EPC) energi hijau tersebut sejalan dengan arah transisi energi nasional yang mendorong peningkatan pemanfaatan sumber energi domestik, termasuk panas bumi dan tenaga surya.
Dalam konteks pengembangan sistem ketenagalistrikan nasional, keberadaan pembangkit energi bersih serta infrastruktur transmisi dan interkoneksi menjadi bagian penting untuk mendukung peningkatan bauran energi terbarukan dan pengurangan emisi sektor ketenagalistrikan menuju target Net Zero Emission.
Dipercaya Kerjakan Tiga Proyek Geothermal Secara Simultan
Sebagai bentuk kontribusi pada pengembangan energi bersih, PT GUT saat ini dipercaya mengeksekusi pekerjaan pada tiga proyek geothermal di lokasi berbeda secara bersamaan, yakni Geothermal Salak 7, Patuha 2, dan Dieng 2.
Portofolio tersebut melengkapi pengalaman PT GUT dalam mengerjakan proyek kelistrikan dan energi terbarukan, antara lain EPCC Turn Key Project 150 kV Transmission Line East Bali Solar Power Plant 25 MWp milik Medco serta konstruksi 15 kV Isolated Phase Busduct di Ulubelu Geothermal Power Plant.
Direktur Utama sekaligus Direktur Operasional PT Graha Usaha Teknik, Kuswanto Rahayu (Dade), mengatakan pengembangan energi terbarukan membutuhkan kesiapan teknis dan operasional untuk memastikan proyek dapat berjalan sesuai standar.
«“Transisi menuju Energi Baru Terbarukan tidak hanya menuntut visi lingkungan, tetapi juga kesiapan operasional di lapangan dengan kompleksitas teknis yang lebih tinggi. PT GUT siap mengawal seluruh kebijakan strategis dari Presiden serta Kementerian ESDM. Kami memastikan bahwa setiap proyek EBT yang kami tangani dieksekusi dengan standar rekayasa terbaik demi menjamin pasokan daya hijau yang stabil bagi industri dan masyarakat.”»
Perluas Peluang Kemitraan di Sektor EBT
Akselerasi pembangunan infrastruktur energi bersih turut membuka peluang bagi pelaku usaha nasional untuk memperluas kapasitas dan kemitraan di sektor ketenagalistrikan.
Direktur Marketing PT Graha Usaha Teknik, Agung Sutiastoro, mengatakan kehadiran PT GUT di Electricity Connect 2026 menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas jejaring dan menangkap peluang proyek energi bersih di Indonesia.
«“Ekspansi jaringan transmisi masif dan proyek energi bersih telah membuka ruang pasar ketenagalistrikan yang sangat luas di Indonesia. Kehadiran aktif PT GUT di Electricity Connect 2026 dirancang khusus untuk menangkap peluang kemitraan strategis tersebut. Dengan kapabilitas ekosistem solusi dari hulu ke hilir, kami siap mendukung kementerian mempercepat elektrifikasi industri strategis berbasis energi bersih di berbagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.”»
Menurutnya, penguatan jaringan transmisi menjadi elemen penting seiring meningkatnya kebutuhan integrasi sumber energi terbarukan ke dalam sistem ketenagalistrikan.
Perkuat Kompetensi Engineering dan Talenta Lokal
Dari sisi teknis, integrasi sumber energi terbarukan ke jaringan listrik membutuhkan kemampuan engineering, konstruksi hingga komisioning yang terintegrasi.
Direktur Teknis PT Graha Usaha Teknik, Abdul Hamid, menegaskan pengalaman lebih dari dua dekade menjadi modal perusahaan dalam menangani proyek kelistrikan dengan kompleksitas tinggi.
«“Modernisasi jaringan untuk mengakomodasi energi bersih seperti tenaga surya dan panas bumi membutuhkan kompetensi teknik tingkat tinggi. Kami bangga menegaskan bahwa para insinyur lokal kami di PT GUT telah memiliki keahlian yang sangat matang. Berbekal rekam jejak lebih dari dua dekade, talenta lokal kami mampu menangani seluruh fase rancang bangun hingga komisioning megaproyek kelistrikan hijau secara mandiri, aman, dan kokoh.”»
Kompetensi tersebut menjadi bagian dari upaya PT GUT memperkuat posisi perusahaan sebagai penyedia jasa EPC yang mampu menangani proyek energi dan infrastruktur kelistrikan dari tahap engineering hingga konstruksi dan commissioning.
Tata Kelola Keuangan Dukung Keberlanjutan Proyek
Selain aspek teknis, pengelolaan finansial menjadi bagian penting dalam memastikan keberlanjutan proyek infrastruktur energi yang membutuhkan investasi besar.
Direktur Keuangan PT Graha Usaha Teknik, Ambarlin Widanarti, mengatakan perusahaan menempatkan tata kelola keuangan dan kapasitas pendanaan sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan pelaksanaan proyek.
«“Infrastruktur kelistrikan yang kuat dan bersih adalah prasyarat utama untuk menarik investasi global secara berkelanjutan ke Indonesia. Dari sisi finansial, PT GUT berkomitmen penuh menjaga struktur modal yang sehat serta kapasitas pendanaan yang kuat. Hal ini menjadi jaminan bahwa seluruh proyek penugasan kelistrikan hijau dari klien dapat diselesaikan secara tepat waktu, transparan, dan akuntabel guna menjaga stabilitas makroekonomi jangka panjang.”»
Dengan berakhirnya Electricity Connect 2026, PT GUT menyatakan akan terus memperkuat sinergi dengan Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), regulator, pelaku industri, serta mitra internasional untuk mendukung pembangunan infrastruktur kelistrikan yang andal dan peningkatan pemanfaatan energi bersih di Indonesia.
