ACEH SINGKIL, Detakindonesianews —
Gerakan Masyarakat Peduli Perempuan dan Anak (Germas PPA) kembali menunjukkan ketegasannya dalam upaya pendampingan terhadap perempuan dan anak. Tim Germas PPA turun langsung ke Aceh Singkil untuk mendampingi Imelda Safitri, meski kedatangan mereka sempat mendapat intimidasi ringan dari salah seorang warga.
Namun di balik pendampingan tersebut, muncul kekecewaan dari Wakil Ketua Umum Germas PPA, Rika Parlina Sh, terhadap Asisten II Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil. Rika menilai Asisten II tidak menunjukkan komitmen penuh dalam memfasilitasi pertemuan antara pihak Germas PPA dengan suami Imelda, sebagaimana sebelumnya telah dijanjikan.
“Kami datang jauh ke Aceh Singkil membawa niat baik demi memastikan hak-hak Imelda terpenuhi. Namun sangat disayangkan, pihak Asisten II yang sebelumnya berjanji membantu justru tidak hadir dan tidak memfasilitasi pertemuan dengan suami korban,” ujar Rika dengan nada kecewa.
Rika menegaskan bahwa kehadiran instansi pemerintah daerah sangat penting dalam penyelesaian kasus yang melibatkan perempuan dan anak, apalagi ketika proses mediasi atau klarifikasi membutuhkan peran pejabat terkait.
“Pendampingan seperti ini membutuhkan dukungan semua pihak. Ketika ada pihak yang tidak komitmen, prosesnya menjadi terhambat. Ini bukan tentang kepentingan Germas PPA, tetapi tentang masa depan seorang perempuan yang sedang meminta perlindungan,”tambahnya.
Meski menghadapi tantangan, termasuk sedikit intimidasi dari warga dan tidak adanya fasilitasi dari Asisten II, Germas PPA tetap melanjutkan pendampingan secara profesional. Tim memilih tetap menggunakan pendekatan humanis demi menjaga suasana kondusif dan memastikan Imelda mendapatkan perlindungan yang layak.
Masyarakat yang mengetahui kehadiran Germas PPA memberikan apresiasi atas keseriusan organisasi tersebut dalam membantu warga yang membutuhkan, sekaligus tetap menjaga etika dalam setiap langkah pendampingan.
Dengan ketegasan dan komitmen ini, Germas PPA kembali menegaskan diri sebagai organisasi yang konsisten berdiri di garis depan untuk membela hak perempuan dan anak, tanpa mundur menghadapi tekanan maupun kekecewaan terhadap pihak-pihak yang tidak menepati janji.
